Moderator

Romo Alexius Widianto, Pr.

Pendamping / Couple Angel

Handrij Oten
Clementine Ardiati (Sandy)

Koordinator ME Paroki

Filemon Stefanus Kendy Hasan
Maria Bernadette Cordelia Budjamin

Bendahara

Gregorius Hendry Gunawan
Birgitta Shanny Tjandra

Hubungi Kami

Ayo Bagikan

Apa itu Komunitas Marriage Encounter (ME)?

Marriage Encounter adalah sebuah gerakan spiritual dalam Gereja Katolik yang berfokus pada pengalaman pasangan suami istri yang menjalankan pernikahannya. Dalam ME kita akan mempelajari:

  • Teknik berkomunikasi atas dasar cinta kasih.
  • Masing-masing pasutri diberi kesempatan untuk melihat lebih dalam pribadi pasangan anda terhadap diri anda, orang lain, dan Tuhan.
  • Memberi motivasi untuk memperbaiki hubungan dan kehidupan sebagai pasangan suami istri.
  • Merupakan saat yang tepat untuk berbagi perasaan, harapan, kekhawatiran, keputusan bahkan kebahagiaan dan merancang masa depan yang lebih baik bersama-sama.

Untuk Siapakah Komunitas Marriage Encounter (ME)?

Komunitas Marriage Encounter memiliki suatu Program yang diperuntukkan untuk pasangan suami istri dan yang ingin meningkatkan kualitas hubungan dalam kehidupan mereka. Program tersebut dinamai WeekEnd ME dirancang untuk memperluas dan mendalami arti sebuah kebahagiaan sebagai pasangan suami istri dan sebagai orangtua.

Untuk Imam dan Bruder/ Suster yang ingin meningkatkan relasi mereka dengan umatnya/ komunitasnya dan mengembangkan apresiasi terhadap keteguhan mereka lebih mendalam, untuk tetap setia mengemban panggilan Tuhan.

Bagaimana Sejarah Terbentuknya Komunitaas Marriage Encounter (ME)?

Marriage Encounter diawali dan berkembang melewati jalan yang panjang. Seorang Imam muda: Gabriel Calvo, Pr yang bertugas di Spanyol saat itu, menemukan bahwa kesulitan-kesulitan anak-anak remaja yang dibimbingnya ternyata berhubungan erat dengan keadaan orangtua mereka sebagai suami istri.

Tahun 1962, Pastor Calvo menyajikan pertemuan sebagai retret akhir minggu untuk pasangan suami istri (pasutri) di Barcelona dan berjalan dengan sukses. Sejak berdiri dengan resmi pada tahun 1968 di Amerika, pasutri dan imam dari berbagai negara telah menghabiskan waktu dan energi mereka untuk memperkenalkan WeekEnd ME di seluruh dunia.

Di Indonesia ME diperkenalkan pertama kali oleh Suster Patricia dari Gembala Baik kepada Uskup Agung Jakarta Mgr. Leo Soekoto, SJ sepulang Suster Patricia mengikuti WeekEnd ME di Amerika. Tanggal 25 – 27 Juli 1975 untuk pertama kalinya WeekEnd ME diselenggarakan di Evergreen Tugu Puncak.

Tanggal bersejarah itu dicatat sebagai tanda masuknya ME pertama kali di Indonesia. Sampai saat ini lebih dari 2 juta pasutri, ribuan Imam/Bruder/Suster telah mendapatkan manfaat dari WeekEnd ME yang telah mereka ikuti di seluruh dunia. Mereka ingin berbagi pengalaman, sebab mereka telah benar-benar menemukan sesuatu yang berharga dalam kehidupan perkawinan dan selibat mereka.

Apa saja yang dilakukan dalam sebuah WeekEnd ME?

Suasana dalam WeekEnd ME diciptakan agar pasutri lebih memfokuskan perhatiannya terhadap pasangannya.

Team memberikan beberapa presentasi. Setiap presentasi memberikan kesempatan kepada pasutri untuk melihat diri sendiri dan pasangannya sebagai individu dan hubungan mereka terhadap orang lain serta hubungan mereka terhadap Tuhan.

Setiap presentasi memberikan bukti dan alat yang dapat menjadikan kehidupan perkawinan menjadi lebih baik. Team pemberi presentasi akan membantu memperluas dan memperdalam kualitas hubungan suami/istri dengan pasangan masing-masing.

Apakah peserta WeekEnd ME harus Katolik?

Tidak, namun demikian WeekEnd ME dipersembahan oleh tiga pasutri dan seorang imam dengan tata cara agama Katolik. Pasangan non-Katolik boleh mengikuti WeekEnd ME. Sampai saat ini diantara yang telah ikut dalam WeekEnd ME ada pula pasutri non-Katolik.

Apakah Dalam WeekEnd ME Kerahasiaan Pribadi (Privacy) Tergaja?

Privacy pasutri akan dihormati, mereka akan mempunyai ruang dan waktu untuk lebih mengenal pasangannya secara pribadi dengan teknik komunikasi yang telah mereka pelajari dalam WeekEnd ME yang dialami saat itu. Dalam hal ini tidak ada kelompok diskusi agar privacy suami / istri tetap terjaga.

“Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Mat 19:6)

Bagaimana ME memperbaiki Hubungan Perkawinan?

Dalam suatu perkawinan ada saatnya kita dan pasangan kita menganggap bahwa hubungan pasutri adalah suatu hal yang biasa. Dalam WeekEnd ME pasutri akan menemukan waktu yang tepat untuk mendapatkan sesuatu yang lebih dalam arti perkawinan yang sebenarnya, yakni:

• Kesempatan untuk lepas dari rutinitas.
• Kesempatan untuk melihat lebih dekat dalam perkawinan.
• Suasana dibuat bagi pasutri untuk lebih menggali masa-masa penting dalam menjalankan kehidupan bersama-sama dengan rasa cinta dan pengertian.
• Pasutri akan diberikan pandangan, alat dan kebercayaan diri untuk meningkatkan kualitas perkawinan dan mempererat perasaan cinta terhadap pasangan.

Banyak pasutri yang telah mengikuti WeekEnd ME menyatakan: WeekEnd ME adalah pengalaman yang paling berkesan dalam kehidupan mereka.

Berapa Lama Pelaksanaan WeekEnd?

WeekEnd ME dimulai pada Jum’at sore sampai dengan hari Minggu sore, dan ditutup dengan Perayaan Ekaristi.

Biaya yang dibebankan kepada para peserta hanya biaya pengganti untuk rumah retret dimana WeekEnd ME diselenggarakan selama 3 hari 2 malam.

Hingga saat ini belum ada peserta yang ditolak mengikuti WeekEnd ME hanya karena masalah keterbatasan dana. ME terbuka untuk memberi secara sukarela, dan semua diterima dengan senang hati.

Mengapa Perlu Pasangan Suami Istri Mengikuti Marriage Encounter?

Mengikuti ME penting karena beberapa alasan utama:

  1. Memperdalam Komunikasi: ME mengajarkan cara berkomunikasi yang efektif, melampaui percakapan sehari-hari. Ini membantu pasangan untuk saling mengenal lebih dalam, memahami perasaan, dan kebutuhan satu sama lain.
  2. Menyegarkan Janji Pernikahan: Bagi pasangan, ME adalah kesempatan untuk merenungkan kembali janji pernikahan yang telah diucapkan di hadapan Tuhan, memperkuat komitmen, dan menemukan kembali semangat awal pernikahan mereka.
  3. Memperkuat Hubungan dengan Tuhan: ME membantu pasangan dan imam untuk melihat relasi mereka sebagai sebuah sakramen, yang berarti ada kehadiran Tuhan di dalamnya. Ini memperkuat fondasi spiritual dalam hubungan mereka.
  4. Pencegahan, Bukan Pengobatan: ME lebih berfokus pada pencegahan masalah. Dengan membangun komunikasi yang sehat sejak awal, pasangan dapat mengatasi tantangan di masa depan dengan lebih baik.

Apa Yang Menjadi Kegiatan & Dasar Komunitas Marriage Encounter?

Kegiatan utama dari Marriage Encounter berpusat pada retret akhir pekan yang dikenal sebagai “Akhir Pekan ME.” Ini adalah pengalaman intensif selama tiga hari dua malam, di mana pasangan suami istri dan para imam diajak untuk:

  • Belajar Teknik Komunikasi Khusus: Mereka diajarkan sebuah metode dialog yang terstruktur untuk berbagi perasaan, harapan, dan kekecewaan secara mendalam. Ini bukan percakapan biasa, melainkan cara untuk benar-benar mendengarkan dan dipahami.
  • Refleksi Diri dan Pasangan: Melalui serangkaian presentasi dan waktu pribadi untuk dialog, setiap individu diajak untuk merefleksikan diri mereka sendiri dan dinamika hubungan mereka.
  • Merayakan Sakramen: Akhir Pekan ME selalu diwarnai dengan perayaan Ekaristi dan rekonsiliasi, yang menegaskan kembali bahwa pernikahan adalah sebuah sakramen, di mana Tuhan hadir di tengah-tengah pasangan.

Dasar dari semua kegiatan ini adalah keyakinan bahwa hubungan suami-istri adalah sebuah sakramen yang hidup, sebuah tanda kasih Allah bagi dunia. Dengan menguatkan relasi mereka, pasangan tidak hanya membangun kebahagiaan pribadi tetapi juga menjadi saksi hidup bagi nilai-nilai Injil.