PESTA PEMBAPTISAN TUHAN “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi” (Luk 3:22).
Saudara-saudari terkasih, Hari ini Gereja merayakan Pesta Pembaptisan Tuhan. Dengan Pesta Pembaptisan Tuhan, Gereja menutup Masa Natal. Besok kita memasukki masa biasa. Dan memang Sebagian besar kehidupan kita adalah hari biasa-biasa saja. Akan tetapi Pesta Pembaptisan hari Minggu ini, juga membuka babak baru dalam kehidupan Yesus dan kehidupan kita.
Di Sungai Yordan, Yesus dibaptis, langit terbuka, Roh Kudus turun, dan suara Bapa terdengar: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.” Peristiwa ini adalah salah satu momen paling jelas tentang Allah pewahyuan Tritunggal Mahakudus: Putra dibaptis, Roh Kudus turun seperti burung merpati, Bapa bersabda: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi”. Maka Pembaptisan Tuhan bukan sekadar peristiwa pribadi Yesus, tetapi wahyu tentang identitas-Nya dan rencana keselamatan Allah. Kata-kata ini bukan hanya ditujukan kepada Yesus dua ribu tahun yang lalu. Kata-kata ini juga ditujukan kepada kita, dan hari ini, secara khusus, kepada anak-anak kita dan keluarga-keluarga kita.
Pertama, Yesus dibaptis: Allah masuk ke dunia manusia. Yesus tidak dibaptis karena Ia berdosa. Ia dibaptis karena Ia mau berdiri di tengah manusia, ikut masuk ke dalam realitas hidup kita manusia. Yesus turun ke air, seolah berkata: “Aku tidak menyelamatkanmu dari jauh. Aku berjalan bersamamu.” Di sinilah pesan penting bagi keluarga masa kini.
Dunia bergerak sangat cepat: teknologi, media sosial, kecerdasan buatan, tuntutan prestasi, kompetisi sejak usia dini. Anak-anak kita hidup di dunia yang jauh berbeda dari dunia masa kecil orang tuanya. Namun seperti Yesus yang turun ke Sungai Yordan, orang tua dipanggil untuk tidak mendidik dari kejauhan, melainkan: Hadir. Mendengarkan. Berjalan bersama anak-anak mereka. Bukan sekadar mengatur, akan tetapi menyertai.
Kedua, Sebelum berprestasi, anak adalah “yang dikasihi”Dalam Pembaptisan Yesus, Bapa tidak berkata: “Inilah Anak-Ku yang paling berhasil” Bukan juga mengatakan “Inilah anak-Ku yang paling pandai”
atau “yang paling taat”. Allah Bapa berkata: “Anak-Ku yang Kukasihi.”
Ini pesan yang sangat penting dalam dunia pendidikan hari ini. Anak-anak sering dinilai dari: Nilai rapor. Ranking. Prestasi. Kepandaian teknologi. Kepandaian matematika. Kepatuhan terhadap standar sosial. Tanpa disadari, mereka belajar bahwa: “Aku berharga kalau aku berhasil.” Pesta Pembaptisan Tuhan mengingatkan kita: Identitas anak tidak ditentukan oleh prestasi, tetapi oleh kasih. Tugas pertama orang tua dan keluarga Katolik adalah: Membuat anak-anak merasa dikasihi terlebih dahulu, sebelum dituntut untuk berhasil.
Ketiga, Pembaptisan bayi: iman dimulai dari keluarga. Santo Paus Yohanes Paulus II sering membaptis bayi pada pesta Pembaptisan Tuhan. Itu bukan sekadar tradisi indah, tetapi pesan iman yang kuat. Bayi belum bisa memilih, belum bisa mengerti, belum bisa berprestasi. Namun Gereja berkata: “Engkau layak menerima rahmat Allah sekarang.”
Ini mengingatkan kita bahwa: Keluarga adalah sekolah iman pertama. Pendidikan iman tidak bisa ditunda sampai anak “siap.” Nilai rohani tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada sekolah atau gereja. Di rumah: Anak belajar berdoa dari orang tua. Anak belajar mengampuni dari cara orang tua menyelesaikan konflik. Anak belajar mencintai Tuhan dari cara orang tua mencintai sesama.
Keempat, Anak-anak hari ini: Cepat mengakses informasi. Cepat belajar teknologi. Tetapi sering lebih lambat dalam kedewasaan emosional dan Rohani. Di tengah kecepatan dunia, keluarga Katolik dipanggil menjadi: Ruang keheningan di tengah kebisingan. Tempat aman di tengah tekanan. Rumah identitas di tengah kebingungan jati diri. Pendidikan Katolik bukan pertama-tama soal mengejar kecepatan dunia, tetapi menanam kedalaman iman.
Kelima, Memperbarui janji baptis dalam keluarga. Hari ini, Pesta Pembaptisan Tuhan mengajak kita bertanya: Apakah rumah kita membantu anak-anak mengenal bahwa mereka adalah anak Allah? Apakah anak-anak kita lebih sering mendengar tuntutan atau kasih? Apakah keluarga kita menjadi tempat bertumbuh, bukan tempat takut gagal? Dalam pembaptisan kita masing-masing, Allah juga berkata: “Engkaulah anak-Ku yang Kukasihi.” Dan dari keluarga-keluarga yang sadar akan identitas ini, akan lahir generasi yang: Cerdas, tetapi rendah hati. Cepat, tetapi bijaksana.
Maju dalam teknologi, tetapi berakar dalam iman.
Saudara-saudari terkasih, Seperti Yesus memulai perutusan-Nya dari Sungai Yordan, pendidikan anak juga harus dimulai dari kesadaran akan kasih Allah. Mari kita jaga keluarga kita sebagai: Tempat anak-anak menemukan jati diri. Tempat iman ditanam. Tempat kasih Allah dirasakan nyata. Semoga setiap anak yang dibaptis, dan setiap keluarga Kristen, berani berjalan di dunia yang cepat ini dengan hati yang berakar pada kasih Allah. Amin (JT).











