HOMILI 22 Jan 20226 (INJIL MRK 3:7-12 / LUK 24:29)
INJIL hari ini (Markus 3:7-12) menceritakan, banyak orang menjamah Kristus dan menerima kesembuhan dari-Nya. Bapa-Bapa Gereja, seperti Santo Agustinus dan Benediktus mengajar kita: yang menjamah dengan iman, harus tinggal dalam kasih. Di jalan ke Emaus, dua murid berkata, “Tinggallah bersama kami, ya Tuhan. Mane Nobiscum Domine!” (Luk. 24:29). Tuhan Yesus tinggal bersama mereka bukan karena hari hampir malam saja, tetapi karena tanpa kehadiran-Nya, hati mereka tetap gelap.
Setiap merayakan ekaristi, dalam Komuni Kudus, Kristus tidak hanya disentuh, melainkan diterima dan “tinggal” dalam hati kita. Tuhan masuk ke dalam diri kita, bukan sebagai tamu yang singgah, melainkan sebagai Tuhan yang hendak tinggal berdiam. Seperti diajarkan Santo Agustinus, kita tidak mengubah Kristus menjadi diri kita, melainkan kitalah yang diubah menjadi apa yang kita terima.
Santo Agustinus: “Esto quod vides, et accipe quod es” — jadilah apa yang engkau terima. Benediktus mengajarkan bahwa Kristus yang “tinggal”, dan kita yang belajar “tinggal bersama-Nya”. Maka Komuni Kudus menuntut lebih dari rasa syukur. Tuhan memanggil kita kepada hidup yang diubah. Dan seperti doa sunyi para rahib, kita tanpa banyak kata berdoa: Tinggallah bersama kami,Tuhan agar hati kami tenang dalam Engkau, dan hidup kami menjadi pujian yang setia.
Santo Agustinus berseru, dalam tulisannya Confessiones I, 1: “Fecisti nos ad Te, et inquietum est cor nostrum, donec requiescat in Te.” Dapat diterjemahkan: “Engkau telah menciptakan kami bagi-Mu, dan hati kami gelisah sampai beristirahat dalam Dikau.” Dan ketika Kristus tinggal dalam diri kita, hati kita belajar tenang, karena telah menemukan rumahnya. Semoga setiap kali menyambut komuni ini mengantar kita dari kegelisahan menuju perhentian, dari mencari ke luar menuju tinggal di dalam Kristus. (Jacobus Tarigan, Pr).











