SEMUA DIPANGGIL MENJADI KUDUS
KONSILI Vatikan II (1962-1965) menyatakan “Semua orang beriman dipanggil kepada kepenuhan hidup kristiani dan kesempurnaan kasih.” (Lumen Gentium, art. 40). Kalimat dari Lumen Gentium ini terdengar sederhana, namun daya ubahnya sangat besar. Ia memecah anggapan lama bahwa kekudusan hanya milik segelintir orang Rohani: biarawan-biarawati, kaum rohaniwan. Gereja menegaskan kembali wajah Gereja sebagai umat peziarah yang seluruh anggotanya dipanggil untuk hidup dalam kasih. Santo Fransiskus Asisi, (1182-1226) dan diperdalam secara teologis oleh Santo Bonaventura (1218-1274), memberi warna yang sangat khas bagi pemahaman ini, yakni kekudusan sebagai kesederhanaan Injili, relasi kasih, dan peziarahan bersama seluruh ciptaan.
1. ORANG MUDA KATOLIK: MENCARI TUHAN DENGAN HATI YANG SEDERHANA
Orang muda sering hidup dalam pencarian: jati diri, makna, dan masa depan. Dunia menawarkan banyak jalan, tetapi tidak selalu memberi arah. Santo Fransiskus sendiri memulai perjalanannya sebagai seorang muda yang gelisah. Ia mencari kemuliaan, petualangan, dan pengakuan. Namun perjumpaannya dengan Kristus yang tersalib mengubah arah hidupnya. Dalam pengalaman rohaninya, Santo Fransiskus mengakui: “Tuhan sendirilah yang menuntun aku di tengah dunia.” (Testimentum, 14). Bagi OMK, kekudusan bukan berarti sudah tahu semua jawaban, melainkan berani berjalan bersama Tuhan di tengah ketidakpastian. Seperti ditegaskan oleh Santo Agustinus: “Gelisahlah hati kami sampai beristirahat dalam Dikau” (Confessionis, I,1). Kegelisahan bukan lawan iman, melainkan sering menjadi pintu masuk menuju perjumpaan sejati dengan Allah.
2. KELUARGA: HIDUP BIASA SEBAGAI TEMPAT RAHMAT
Santo Fransiskus memandang, hal-hal kecil dan sederhana memiliki nilai rohani yang besar. Santo ini memuji Allah bukan hanya dalam keajaiban, tetapi juga dalam realitas sehari-hari: matahari, air, api, dan bumi. Santo Bonaventura menegaskan bahwa Allah meninggalkan jejak-jejak-Nya (vestigia Dei) dalam seluruh ciptaan dan pengalaman manusia (Itinerarium Mentis in Deum, II, 1). Dengan cara ini, kehidupan keluarga—meski penuh keterbatasan—menjadi tempat nyata kehadiran Allah. Kesabaran orang tua, kesetiaan pasangan, dan pengampunan dalam konflik sehari-hari adalah jalan kekudusan yang senyap. Sejalan dengan para Bapa Gereja, Santo Yohanes Krisostomus menegaskan bahwa keluarga adalah ecclesia domestica—Gereja kecil di tengah dunia (Homilia in Genesim, VI).
3. PARA PEKERJA: KERJA SEBAGAI PARTISIPASI DALAM KARYA ALLAH
Santo Fransiskan memandang kerja bukan hanya sebagai kewajiban ekonomi, tetapi sebagai bentuk partisipasi dalam relasi harmonis dengan ciptaan. Ia bekerja dengan tangannya sendiri dan menolak hidup yang terpisah dari realitas kaum kecil. Santo Bonaventura melihat kerja manusia sebagai bagian dari dinamika exitus–reditus: segala sesuatu berasal dari Allah dan diarahkan kembali kepada-Nya (Commentarium in II Sententiarum, prol). Kerja yang dilakukan dengan kejujuran dan kasih menjadi sarana kembali kepada Allah. Pandangan ini sejalan dengan ajaran para Bapa Gereja, seperti Santo Basilius Agung mengingatkan bahwa kerja tanpa kasih kehilangan maknanya, sementara kerja yang dijalani demi kebaikan bersama menjadi kesaksian Injil di tengah dunia (Regulae Fusius Tractatae, 37).
4. KAUM RELIGIUS: TANDA PROFETIS KERAJAAN ALLAH
Dalam Gereja, hidup religius memiliki peran profetis. Namun menurut Santo Bonaventura, kaum religius tidak dipanggil untuk menjauh dari umat, melainkan untuk menjadi cermin tujuan akhir hidup Kristiani (Apologia Pauperum, c. 12). Santo Fransiskus sendiri menolak sikap superior rohani. Ia menyebut dirinya dan para saudara sebagai minores—yang kecil. Dalam Admonitiones ia menulis: “Berbahagialah hamba yang tidak meninggikan diri ketika dipuji, sebagaimana ia tidak merendahkan diri ketika dicela.” (Admonitiones, XIX). Dengan demikian, hidup bakti tidak berdiri di atas umat, tetapi berjalan bersama mereka sebagai tanda Kerajaan Allah yang akan datang.
PENUTUP: PEZIARAHAN MENUJU ALLAH DALAM KASIH
Bagi Santo Fransiskus, kekudusan bukanlah kesempurnaan yang kaku, melainkan perjalanan cinta. Santo Bonaventura menggambarkan hidup rohani sebagai itinerarium mentis in Deum—peziarahan jiwa menuju Allah (Itinerarium Mentis in Deum, Prol). Konsili Vatikan II menegaskan bahwa peziarahan ini bukan milik segelintir orang, tetapi panggilan seluruh Gereja. Dari orang muda hingga religius, dari keluarga hingga pekerja, semua dipanggil untuk berjalan bersama menuju Allah dalam kesederhanaan, kerendahan hati, dan kasih.
Daftar Pustaka
1. Agustinus. Confessiones. Turnhout: Brepols, 1981.
2. Basilius Agung. Regulae Fusius Tractatae. PG 31.
3. Bonaventura. Itinerarium Mentis in Deum. Opera Omnia V. Quaracchi.
4. Bonaventura. Apologia Pauperum. Opera Omnia VIII. Quaracchi.
5. Fransiskus Asisi. Fonti Francescane. Assisi: Edizioni Porziuncola, 2004.
6. Konsili Vatikan II. Lumen Gentium. 1964.
7. Konsili Vatikan II. Gaudium et Spes. 1965.











