HARI RABU ABU – ABU MERUPAKAN TANDA PERTOBATAN DAN KERENDAHAN HATI
HARI ini kita menerima tanda yang sangat sederhana: abu di dahi. Bukan mahkota. Bukan minyak harum. Bukan tanda kemenangan. Melainkan abu. Ketika imam menandai dahi kita dan berkata, “Ingatlah, engkau debu dan akan kembali menjadi debu” atau “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil”, Gereja sedang mengajak kita berdiri dalam kejujuran terdalam sebagai manusia.
1. Mengapa Abu?
Abu adalah sisa dari sesuatu yang telah terbakar. Ia tidak lagi memiliki bentuk, tidak lagi megah. Abu berbicara tentang kefanaan. Tentang sesuatu yang pernah kuat tetapi kini rapuh. Dalam Kitab Suci, abu adalah tanda pertobatan dan kerendahan hati. Umat Israel mengenakan kain kabung dan duduk dalam abu sebagai tanda kembali kepada Allah. Bukan untuk mempermalukan diri, tetapi untuk mengakui: tanpa Tuhan, aku hanyalah debu. Abu mengingatkan kita bahwa kita bukan Allah. Kita terbatas. Kita fana. Kita bisa salah. Kita bisa jatuh. Dan justru di situlah keselamatan dimulai.
2. Abu di Dahi: Identitas atau Formalitas?
Mengapa abu ditaruh di dahi? Karena dahi adalah bagian yang mudah terlihat. Iman tidak boleh hanya tersembunyi di dalam hati. Ia harus tampak dalam hidup. Namun Gereja juga mengingatkan melalui sabda Yesus: jangan berpuasa supaya dilihat orang. Maka abu ini bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk dihidupi. Yang berbahaya bukan tidak menerima abu. Yang berbahaya adalah menerima abu tanpa pertobatan. Hari ini Tuhan tidak sedang menakut-nakuti kita dengan kematian. Ia sedang menyelamatkan kita dari kesombongan.
3. Abu dan Realitas Hidup Kita
Di tengah dunia yang mengagungkan pencitraan, keberhasilan, dan kekuasaan, Rabu Abu adalah kritik yang sunyi namun tajam. Dunia berkata: “Tunjukkan kehebatanmu.” Rabu Abu berkata: “Ingat, engkau debu.” Dunia berkata: “Kumpulkan materi sebanyak mungkin.” Rabu Abu berkata: “Semua itu akan menjadi abu.” Tetapi Gereja tidak berhenti pada debu. Karena justru dari debu itulah Allah membentuk manusia (Kejadian 2:7). Dan dari kematian itulah Kristus bangkit. Abu bukan akhir. Abu adalah awal perjalanan.
4. Makna Pertobatan
Pertobatan bukan sekadar merasa bersalah. Pertobatan adalah kembali mencintai Tuhan. Masa Prapaskah yang dimulai hari ini bukan lomba kesalehan. Ia adalah perjalanan pulang. Pulang dari egoisme kepada solidaritas. Pulang dari kekerasan hati kepada belas kasih. Pulang dari rutinitas iman kepada relasi yang hidup dengan Tuhan. Doa, puasa, dan sedekah bukan kewajiban kosong. Itulah cara konkret membersihkan hati dari “abu-abu” dosa yang menutupi cahaya kasih Allah. Dalam Injil Matius 6, Yesus mengingatkan agar kesalehan tidak menjadi tontonan. Abu bukan dekorasi rohani. Ia bukan identitas musiman. Ia adalah pengingat bahwa kita rapuh, fana, dan sangat membutuhkan belas kasih Allah. Maka hari ini, abu di dahi kita seperti suara sunyi yang berkata: “Engkau debu, tetapi engkau debu yang dicintai.” Pertobatan bukan soal merasa paling berdosa. Pertobatan adalah keberanian untuk kembali. Bukan rasa bersalah yang berlarut-larut, tetapi arah hidup yang diperbarui. Kalau setelah menerima abu kita masih menyimpan kebencian, masih menunda pengampunan, masih menutup mata terhadap yang miskin maka tanda itu belum menjadi jalan. Namun jika abu itu membuat kita lebih lembut, lebih sabar, lebih peduli maka tanda itu mulai berubah menjadi pertobatan.
5. Pesan Profetis Hari Ini
Jika hari ini kita menerima abu tetapi tetap memelihara kebencian, kita belum sungguh mengerti. Jika kita berpuasa dari makanan tetapi tidak berpuasa dari gosip dan kemarahan, kita melewatkan maknanya. Jika kita memberi sedekah tetapi menutup hati terhadap penderitaan sekitar, abu itu hanya simbol kosong. Allah tidak membutuhkan abu di dahi kita. Ia merindukan hati yang remuk dan terbuka. Hari ini Tuhan berkata lembut: “Jangan takut menjadi debu. Di tangan-Ku, debu bisa menjadi manusia baru.” Maka mari kita melangkah memasuki Masa Prapaskah ini dengan rendah hati, tetapi penuh harapan. Karena dari debu menuju kebangkitan, Kristus berjalan bersama kita.
Dalam Laudato Si’, Paus Fransiskus berbicara tentang pertobatan ekologis integral. Artinya, hubungan kita dengan Allah tidak bisa dipisahkan dari hubungan kita dengan sesama dan dengan ciptaan. Krisis lingkungan bukan hanya soal alam; ia selalu menyentuh orang kecil. Kita tahu: Ketika banjir datang, yang pertama terendam bukan gedung tinggi, tetapi rumah sederhana. Ketika udara memburuk, yang paling terdampak adalah anak-anak dan lansia. Maka Prapaskah ini mengajak kita bertanya dengan jujur: Apakah gaya hidup saya ikut melukai rumah bersama? Apakah saya hidup seolah-olah bumi ini tidak terbatas? Pertobatan ekologis bukan wacana besar. Ia sangat konkret. Semoga Prapaskah ini bukan hanya membuat gereja lebih penuh, tetapi membuat kota ini sedikit lebih bersih, udara sedikit lebih sehat, dan hati kita jauh lebih lembut. Kiranya masa Prapaskah ini menjadi perjalanan pulang yang nyata: lebih hening di hadapan Tuhan, lebih solider terhadap sesama, dan lebih bertanggung jawab terhadap rumah bersama. Amin.











