BAHAGIA DI TENGAH HIDUP JAKARTA
(Hari Minggu Biasa IV, Tahun A dengan Bacaan Zef. 2:3; 3:2. 3:12-13; Mzm 146:1:7.8-9a.9b-10; I Kor. 1:26-31 dan Injil Mat 5:1-12a).
Jacobus Tarigan, Pr
HIDUP di Jakarta sering membuat kita berpikir bahwa bahagia itu identik dengan cepat, naik, dan terlihat berhasil. Cepat kariernya, naik jabatannya, terlihat sukses hidupnya. Tetapi Injil hari ini justru berbicara dengan nada yang berbeda: “Berbahagialah…” Yesus seperti mengajak kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kota dan bertanya: “Apa sebenarnya kebahagiaan itu?”
Dalam Kitab Suci berbahasa Yunani, kata makarioi berarti: hidup yang berada dalam lindungan dan perkenanan Allah. Makna amat dalam dan mendasar: hidup boleh capek, masalah boleh ada, tetapi Tuhan tidak pergi. Yesus memakai kata Yunani makarioi. Artinya bukan “lagi senang” atau “hidup tanpa masalah”, melainkan hidup yang ada di dalam genggaman Allah. Artinya sederhana: hidup boleh macet, masalah boleh datang bertubi-tubi, tetapi arah hidupnya benar.
Di keluarga kota besar, kebahagiaan sering diuji. Orang tua pulang kerja sudah lelah, tetapi tetap meluangkan waktu mendengarkan anak. Suami-istri sama-sama capek, tetapi memilih bicara baik-baik, bukan saling menyindir. Ada pengorbanan yang tidak diunggah ke mana-mana, tidak dilihat orang. Yesus berkata: “Berbahagialah yang lemah lembut.” Maknanya: tidak harus selalu menang dalam perdebatan, tidak harus selalu membela ego, berani mengalah demi menjaga relasi. Dalam keluarga, orang yang berbahagia bukan yang paling benar, tetapi yang paling mau menjaga cinta.
Di kantor, kita tahu tekanannya: target harus tercapai, performa dinilai, kadang ada godaan untuk “main aman” atau “ikut arus”. Contoh konkret: tidak ikut menyalahkan rekan kerja demi terlihat baik, menolak cara curang meski kelihatannya lebih cepat, bekerja sungguh, meski tidak selalu diapresiasi. Yesus berkata: “Berbahagialah yang lapar dan haus akan kebenaran.” Jadi, Bahagia menurut Yesus bukan berarti karier selalu mulus, tetapi hati tetap lurus. Orang yang pulang kerja dengan hati tenang karena tidak mengkhianati nilai, itulah orang yang berbahagia.
Media sosial sering membuat kita: merasa hidup orang lain lebih bahagia, merasa diri kurang berhasil, tergoda menampilkan citra yang tidak utuh. Yesus berkata: “Berbahagialah yang miskin di hadapan Allah.” Maknanya: tidak harus selalu terlihat sukses, tidak menggantungkan nilai diri pada “like” dan komentar, berani jujur di hadapan Tuhan tentang kelemahan sendiri. Orang yang berbahagia adalah orang yang tidak hidup untuk pencitraan, tetapi hidup dalam kebenaran.
Nabi Zefanya berkata Tuhan tinggal bersama: orang yang rendah hati, yang jujur, yang berharap pada-Nya. Mazmur menegaskan: Tuhan menegakkan yang tertunduk dan menopang yang lelah.
Kabar baik bagi kita: Tuhan hadir bukan hanya di gereja, tetapi juga di rumah kontrakan, apartemen, kantor, KRL, dan jalanan macet. Rasul Paulus mengingatkan: yang menyelamatkan kita bukan: jabatan, gaji, koneksi. Di kota yang sering menilai orang dari pencapaian, Paulus berkata: “Siapa yang mau bermegah, bermegahlah di dalam Tuhan.”
Kebahagiaan menurut Yesus bukan hidup tanpa masalah, melainkan hidup yang tidak kehilangan Tuhan. Di tengah kota yang sibuk, bising, dan kompetitif ini, Yesus mengajak kita untuk: memperlambat hati, meluruskan arah hidup, dan percaya bahwa Allah setia. Berbahagialah kita, kalau di tengah dunia yang keras, kita tetap punya hati yang lembut dan iman yang teguh. Amin.
Homili, 1 Februari 2026 (JT)











