DI TENGAH JAKARTA, TUHAN MEMANGGIL NAMAMU – Minggu Prapaskah V/A (Yoh 11:1–45)
BAYANGKAN sebuah sore di Jakarta. Hujan turun pelan. Jalanan macet. Klakson bersahutan. Orang-orang lelah pulang kerja. Di dalam mobil, ada yang diam menatap kosong. Di dalam kamar kos yang sempit, ada yang duduk sendiri, lampu redup, hati terasa berat. Di tengah kota yang begitu hidup…ternyata banyak hati yang terasa “mati”.
Ada seorang pria muda. Setiap hari ia bekerja, tersenyum di depan orang lain, tapi di dalam hatinya kosong. Ada seorang ibu yang terus berjuang demi keluarganya, tetapi diam-diam menyimpan luka yang tak pernah sembuh. Ada juga seorang anak muda yang mulai kehilangan arah, merasa hidupnya tidak berarti.
Mereka tidak mati secara fisik. Tetapi ada sesuatu dalam diri mereka yang perlahan-lahan “terkubur”. Kisah Injil hari ini berbicara tentang seorang sahabat Yesus, Lazarus, yang benar-benar mati. Sudah empat hari di dalam kubur. Tidak ada harapan lagi. Semua orang sudah menangis, sudah menyerah.
Dan yang mengejutkan: Yesus tidak datang tepat waktu. Seolah-olah terlambat. Bukankah ini juga yang sering kita rasakan di Jakarta? Kita berdoa… tapi Tuhan terasa diam. Kita berharap… tapi keadaan tidak berubah. Kita menunggu… tapi Tuhan seperti tidak datang. Namun Injil hari ini membisikkan sesuatu yang dalam: Tuhan tidak pernah terlambat. Ia datang pada waktu yang tepat—untuk menghidupkan, bukan sekadar memperbaiki.
Ketika Yesus tiba, Ia tidak langsung membuat mukjizat. Ia menangis. Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang sering membuat kita harus “kuat”, harus “tegar”, harus “tidak boleh lemah” Injil hari ini menunjukkan Tuhan yang justru berani menangis. Artinya sederhana, tapi sangat dalam: Tuhan mengerti rasa lelahmu. Tuhan tahu luka yang kamu sembunyikan.
Ia hadir, bukan pertama-tama untuk mengubah situasi, tetapi untuk menemani hatimu. Lalu Yesus berdiri di depan kubur dan berseru: “Lazarus, keluarlah!” Dan sesuatu yang mustahil terjadi. Orang mati itu keluar…tetapi masih terikat kain kafan.Sahabat, inilah gambaran kita.
Di Jakarta, kita bisa: tetap pergi kerja… tapi hati mati, tetap tersenyum… tapi jiwa kosong tetap aktif… tapi kehilangan harapan. Kita hidup…tetapi masih terikat. Terikat oleh: luka lama, dosa yang terus diulang, kekecewaan dan rasa tidak berharga. Dan hari ini, di tengah segala kesibukan dan kebisingan kota ini, Yesus juga memanggil namamu. Bukan Lazarus”…tetapi namamu. “Keluarlah!” Keluarlah dari: kepahitan, keputusasaan dan hidup yang tanpa arah. Tetapi kisah ini belum selesai. Yesus berkata kepada orang-orang di sekitarnya:
“Lepaskan dia dan biarkan dia pergi.” Artinya: kita tidak bisa bangkit sendirian.
Di Jakarta yang individualistis ini, kita sering merasa harus kuat sendiri. Tetapi Tuhan mengingatkan: kita butuh orang lain. Kita butuh: keluarga yang menguatkan, sahabat yang mendengarkan dan komunitas yang tidak menghakimi. Karena kebangkitan adalah karya Tuhan, tetapi pemulihan sering terjadi lewat sesama.
Menjelang Paskah, Tuhan tidak meminta kita menjadi sempurna. Ia hanya meminta satu hal: Berani keluar dari kubur kita. Mungkin pelan.Mungkin masih terikat. Tidak apa-apa. Yang penting: melangkah keluar ketika Tuhan memanggil. Karena di tengah kota sebesar Jakarta,
di tengah hidup yang terasa berat dan kadang hampa, ada satu suara yang tidak pernah berhenti memanggil: “Aku adalah Kebangkitan dan Hidup.” Dan hari ini… Ia memanggilmu untuk hidup kembali.











