KISAH PENCOBAAN YESUS DI PADANG GURUN – HOMILI
SETIAP awal Prapaskah, Gereja membawa kita ke satu tempat yang tidak nyaman yakni padang gurun. Injil tidak mengatakan Yesus tersesat di gurun. Injil berkata: Roh membawa Dia ke gurun. Artinya: gurun bukan kecelakaan rohani. Gurun adalah kehendak Allah. Dan di sinilah misterinya. Allah kadang membawa kita ke tempat kering, bukan untuk menghukum, tetapi untuk memurnikan.
1. Gurun sebagai Malam Jiwa (Latin: “la noche oscura”).
Santo Yohanes dari Salib menyebut pengalaman pemurnian itu sebagai “la noche oscura” artinya malam gelap jiwa. Bukan malam dosa. Tetapi malam di mana Allah tampak jauh. Doa terasa kering. Penghiburan hilang. Iman seperti tanpa rasa. Bukankah itu pengalaman banyak orang beriman? Kita tetap datang mengikuti perayaan ekaristi, tetapi hati terasa dingin. Kita tetap melayani, tetapi jiwa lelah. Kita tetap berdoa, tetapi Allah terasa diam. Yohanes dari Salib berkata: Dalam malam itu, Allah sedang bekerja paling dalam. Seperti api yang membakar kayu, semakin kayu itu terbakar, semakin ia menjadi api itu sendiri. Gurun adalah api pemurnian.
2. Tiga Pencobaan: Pemurnian Cinta. Mari kita lihat pencobaan Yesus bukan sekadar godaan moral, tetapi sebagai pemurnian cinta.
Pertama, Batu menjadi roti. Ini Adalah pemurnian kebutuhan. Yesus lapar. Itu nyata. Tetapi Ia tidak menjadikan kebutuhan sebagai pusat segalanya. Yohanes dari Salib berkata: “Jiwa yang melekat pada sesuatu, sekecil apa pun, tidak bebas untuk Allah.” Prapaskah bukan soal menolak roti. Akan tetapi prapaskah adalah masa belajar melatih diri: Apakah aku melekat pada kenyamanan? Pada reputasi? Pada rasa aman?
Kedua, sujud menyembah. Ini adalah pemurnian ambisi. Iblis menawarkan kuasa tanpa salib. Bukankah ini godaan terdalam manusia rohani? Ingin dihormati karena pelayanan. Ingin dikenal karena karya. Ingin dipuji karena kesalehan. Yohanes dari Salib mengingatkan: “Untuk sampai pada semuanya, janganlah engkau menginginkan sesuatu pun.” Kalimat ini radikal. Artinya: selama kita masih mencari diri sendiri dalam pelayanan, kita belum sepenuhnya mencari Allah. Yesus memilih jalan salib, bukan jalan spektakuler.
Ketiga, melompat dari Bait Allah. Ini adalah pemurnian iman. Godaan terakhir adalah menggunakan Allah untuk membuktikan diri. Ini godaan rohani yang paling halus. Kita mungkin tidak menyembah Iblis. Tetapi kita bisa “memanfaatkan” Tuhan. “Tuhan, jika Engkau memberkati aku, aku akan setia.” “Tuhan, jika Engkau kabulkan doaku, aku akan percaya.” Yesus tidak mencobai Bapa. Ia menyerahkan diri sepenuhnya.
Dalam Malam Gelap, iman tidak lagi bergantung pada rasa. Ia menjadi penyerahan murni.
3. Mengapa Roh membawa Yesus ke Gurun? Ini pertanyaan penting. Mengapa Roh membawa Yesus ke tempat pencobaan? Karena cinta yang belum diuji belum matang. Seperti emas dimurnikan dalam api, demikian pula jiwa dimurnikan dalam kegelapan.
Santo Yohanes dari Salib berkata bahwa dalam malam gelap: Allah memurnikan ingatan dari nostalgia dunia. Memurnikan kehendak dari ambisi tersembunyi. Memurnikan akal budi dari kesombongan rohani. Gurun menghancurkan ilusi bahwa kita kuat. Dan justru di sana kita menemukan bahwa Allah adalah satu-satunya kekuatan.
4. Prapaskah: bukan sekadar pantang dan puasa. Sering kita memulai prapaskah dengan daftar: Tidak makan ini. Mengurangi ini itu. Tambah doa ini. Semua itu baik. Tetapi jika hanya eksternal, kita belum masuk gurun.
Prapaskah sejati adalah berani menghadapi kekeringan doa. Berani mengakui motivasi yang tidak murni. Berani diam tanpa mencari pelarian.
Di kota besar seperti Jakarta, kita alergi terhadap keheningan. Kita isi setiap celah dengan suara, layar, aktivitas. Padahal Allah berbicara paling dalam dalam keheningan.
5. Yesus keluar sebagai Pribadi yang teguh. Injil mengatakan, setelah pencobaan itu, iblis mundur. Yesus tidak menjadi lebih spektakuler.
Ia menjadi lebih teguh. Prapaskah bukan membuat kita tampak suci.
Tetapi membuat kita stabil. Stabil dalam iman. Stabil dalam ketaatan.
Stabil dalam kasih.
6. Untuk Kita Hari Ini. Mungkin Prapaskah ini: ada yang sedang mengalami “malam doa”. Ada yang sedang mengalami kekecewaan pelayanan. Ada yang sedang mengalami gurun keluarga atau kesehatan. Jangan buru-buru keluar dari gurun. Kata Yohanes dari Salib: “Dalam kegelapan itulah jiwa berjalan paling aman, karena ia tidak lagi mengandalkan dirinya.” Yesus telah lebih dahulu berjalan di gurun itu.
Ia tidak menghindarinya. Ia menguduskannya. Dan gurun yang diterima dalam ketaatan akan berubah menjadi tempat perjumpaan.
Mungkin Prapaskah ini Tuhan tidak meminta kita melakukan hal besar. Mungkin Tuhan hanya meminta kita tinggal bersama-Nya dalam sunyi. Karena cinta yang matang bukan cinta yang penuh rasa, melainkan cinta yang setia bahkan ketika rasa hilang. Semoga Prapaskah ini menjadi perjalanan dari kebutuhan menuju kebebasan, dari ambisi menuju kemurnian, dari pembuktian menuju penyerahan. Dan ketika Paskah tiba, kita bukan hanya merayakan Kebangkitan Kristus, tetapi mengalami kebangkitan hati yang telah dimurnikan. Amin.











