LAZARUS – “YANG MAHAKUASA MENOLONG!” MINGGU PRAPASKAH V/A (Yoh 11:1-45)
Kisah pembangkitan Lazarus (Yoh 11:1-45, Injil Minggu Prapaskah V tahun A) bisa membantu kita mengenali siapa Yesus yang wafat serta kebangkitannya akan dirayakan pada hari Paskah nanti. Kisah Lazarus ini sederhana tapi sarat dengan makna. Yesus waktu itu sedang di seberang sungai Yordan, di luar wilayah Yudea, karena mengintari orang-orang yang mau merajamnya di wilayah Bait Allah (lihat Yoh 10:31).
Dari Betania dekat Yerusalem datanglah kabar mengenai Lazarus yang sedang sakit. Orang ini saudara Maria dan Marta, kenalan baik dan murid Yesus dari kalangan yang lebih luas.
Dua hari kemudian Yesus mengajak murid-murid-Nya ke Yudea, tentunya dalam perkiraan mereka, untuk melayat Lazarus. Kembali ke Yudea? Risiko! Tapi Yesus tetap mau ke sana. Tapi dia itu adalah terang yang dibutuhkan agar orang tetap lurus berjalan, tanpa dia orang akan tersandung jatuh di kegelapan (ay. 9-10).
Iman kepercayaan tumbuh perlahan-lahan dan bersandar pada macam-macam hal yang tak terduga. Dalam kisah pembangkitan Lazarus ini kita belajar banyak dari orang-orang yang berperan dalam peristiwa itu: Marta, Maria, Lazarus, orang-orang Yahudi yang ada di situ, dan dari Yesus juga.
Maka dari itu, Injil hari ini adalah puncak perjalanan Prapaskah. Kita diajak masuk ke sebuah kisah yang sangat manusiawi: kehilangan, air mata, dan harapan. Yesus datang ketika Lazarus sudah mati empat hari. Secara manusia, semuanya sudah terlambat. Harapan sudah dikubur bersama batu penutup makam. Namun justru di situlah Allah bekerja.
1. Allah Tidak Datang Terlalu Cepat—dan Tidak Pernah Terlambat
Kita mungkin bertanya: mengapa Yesus tidak segera datang ketika Lazarus sakit? Mengapa Ia menunggu? Karena Yesus tidak hanya mau menyembuhkan Lazarus yang sakit. Ia mau menyatakan sesuatu yang lebih dalam: Ia adalah Kebangkitan dan Hidup.
Sering dalam hidup, kita juga merasa Tuhan “terlambat”: doa tidak segera dijawab, masalah tidak cepat selesai dan luka batin tidak langsung sembuh.Tetapi Injil hari ini berkata: Tuhan bekerja justru di saat harapan manusia habis.
2. “Yesus Menangis”: Allah turut masuk dalam penderitaan kita
Ayat terpendek namun terdalam: “Yesus menangis.” Orang-orang Yahudi melihat dan bersimpati (ay 36-37) tapi juga menyangsikan apakah Ia yang beberapa waktu sebelumnya bisa membuka mata orang buta, kini dapat berbuat sesuatu. Memang Yesus merasa tidak dapat berbuat banyak. Dengan perasaan campur aduk ia cuma mau mendekat melihat sahabat yang sudah mendahului itu.
Ia tidak jauh dari penderitaan manusia. Ia tidak dingin. Ia tidak hanya memberi solusi. Ia ikut merasakan. Air mata Yesus adalah tanda bahwa Allah mengerti dukacita kita, dan iman tidak menghapus rasa sakit, tetapi memberi makna apa arti sakit. Tuhan hadir bahkan sebelum mukjizat terjadi.
3. “Lazarus, keluarlah!”: panggilan untuk bangkit
Saat Yesus berseru, Lazarus keluar dari kubur—masih terikat kain kafan. Ini penting: Lazarus sudah hidup, tetapi masih terikat. Bukankah ini gambaran kita? Kita sudah percaya, tapi masih terikat dosa. Kita sudah ingin berubah, tapi masih terbelenggu kebiasaan lama. Kita sudah hidup, tapi belum sungguh bebas. Maka Yesus berkata kepada orang-orang di sekitarnya: “Bukalah ikatannya dan biarkan dia pergi.” Artinya: kebangkitan adalah karya Tuhan, tetapi pelepasan adalah juga tugas komunitas. Gereja dipanggil untuk membantu melepaskan, bukan menghakimi.
4. Prapaskah: keluar dari kubur batin
Menjelang Paskah, Injil ini menjadi cermin bagi kita: Apa “kubur” dalam hidup saya? Kubur dalam hidup kita adalah boleh jadi dendam yang belum diampuni, dosa yang terus diulang, keputusasaan dan iman yang mulai mati. Hari ini Yesus juga berseru kepada kita: “keluarlah!” Bukan nanti. Bukan tunggu sempurna. Tapi sekarang!
Lazarus dipanggil keluar. Bahkan orang yang sudah mati empat hari dan membusuk itu masih taat kepada Yesus. Dia yang mendapat kuasa ilahi (Mesias) untuk membawa orang dekat kehadiran ilahi, yakni dirinya sendiri (Anak Allah) dan mendatangi dunia yang gelap di dalam kubur tadi.
Orang yang sudah mati pun menaati kata-katanya! Peristiwa ini hebat. Tetapi makin didalami makin tak perlu membuat heran. Lazarus, orang yang dikasihi, artinya, orang yang telah berjanji mau pasrah kepadanya dan menerima janji akan dilindungi. Orang seperti itu selalu dan tetap mendengarkan dia yang bersabda, tidak akan terhalang apapun, juga tidak oleh kematian.
Inilah kenyataan yang tak kasat mata jasmani dan tak tecerna pikiran tapi bisa dicerap indra batin dan kepekaan iman. Yohanes juga mengajak kita belajar dari Lazarus si orang mati itu. Kematian tidak menutup pendengarannya bagi sabda ilahi.
Mukjizat terbesar hari ini bukan hanya Lazarus hidup kembali, tetapi bahwa Tuhan mampu menghidupkan apa yang sudah mati dalam diri kita.
Bayangkan seorang hidup di Jakarta: bangun pagi, berangkat kerja, terjebak macet, pulang malam, lalu mengulang hal yang sama keesokan harinya. Hidup berjalan, tetapi hati pelan-pelan mati. Semua tampak “hidup”—gaji ada, aktivitas penuh, media sosial ramai—tetapi di dalamnya ada kubur yang sunyi. Di tengah situasi itu, Yesus berdiri… dan berseru seperti kepada Lazarus: “Keluarlah!”
Keluarlah dari rutinitas yang menguras jiwa. Keluarlah dari kesepian yang disembunyikan di balik kesibukan.
Keluarlah dari iman yang hanya tinggal kebiasaan. Dan mungkin yang paling menyentuh: Lazarus tidak bisa membuka kain kafannya sendiri.
Orang lain harus melepaskannya. Artinya, kita pun tidak bisa hidup sendiri. Kita butuh komunitas, Gereja, sesama—untuk saling melepaskan ikatan-ikatan kematian itu. Maka hari ini, Sabda itu bukan hanya untuk Lazarus. Itu untuk kita—di tengah kota, di tengah kesibukan, di tengah kelelahan. “Tuhan masih berseru: keluarlah… dan mulailah hidup kembali.” “Keluarlah—dari hidup yang hanya berjalan, menuju hidup yang sungguh hidup di dalam Kristus.”
Prapaskah adalah saat kita membuka batu penutup hati. Prapaskah adalah, tatkala kita mendengar suara Tuhan dan … berani melangkah keluar. Karena pada akhirnya, iman kita bukan tentang kematian—tetapi tentang hidup yang lebih kuat dari kematian. Yesus bersabda: “Akulah Kebangkitan dan Hidup.” Dan itu bukan janji kosong—itu sudah terjadi. Amin.
Jakarta, 21 Maret 2026











