LITURGI DAN TRADISI AKAR BIBLIS, KESAKSIAN BAPA GEREJA, DAN RELEVANSINYA BAGI PEMBARUAN GEREJA
LITURGI bukan sekadar tata perayaan ibadat, melainkan jantung kehidupan Gereja. Di dalam liturgi, iman Gereja dirayakan, diwariskan, dan dihayati secara konkret. Karena itu, liturgi tidak dapat dilepaskan dari Kitab Suci, Tradisi apostolik, serta refleksi teologis para Bapa Gereja. Tulisan singkat ini membahas akar biblis liturgi, kesaksian Bapa Gereja, serta relevansi Tradisi bagi pembaruan liturgi sebagaimana ditegaskan dalam Sacrosanctum Concilium.
1. Akar Biblis Liturgi dalam Gereja Perdana
Kesaksian Kitab Suci Perjanjian Baru menunjukkan bahwa kehidupan umat Kristen perdana bersifat liturgis. Kisah Para Rasul 2:42 menggambarkan empat unsur pokok: pengajaran para rasul, persekutuan, pemecahan roti, dan doa, yang menjadi fondasi struktur liturgi Gereja awal.¹
Dalam 1 Korintus 11:23–26, Rasul Paulus menegaskan bahwa perayaan Ekaristi bersumber dari tradisi yang ia “terima” dan “teruskan”, sehingga Ekaristi sejak awal dipahami sebagai bagian dari Tradisi hidup Gereja, bukan praktik individual.² Kisah Emaus (Luk. 24:13–35) semakin menegaskan pola dasar liturgi kristiani: Sabda Allah yang dijelaskan dan roti yang dipecah, suatu struktur yang kelak dikenal sebagai Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi.³
2. Liturgi dalam Kesaksian Bapa-Bapa Gereja
Para Bapa Gereja memberikan gambaran jelas mengenai praktik dan makna liturgi awal. St. Yustinus Martir (†165), dalam Apologia I, menjelaskan secara rinci perayaan Ekaristi hari Minggu, termasuk pembacaan Kitab Suci, doa umat, persembahan roti dan anggur, serta komuni.⁴ Kesaksian ini menunjukkan kesinambungan mendasar dengan liturgi Gereja Katolik masa kini.
St. Ireneus dari Lyon (†202) menegaskan bahwa liturgi mengekspresikan iman Gereja yang satu dan sama di seluruh dunia karena bersumber dari tradisi para rasul.⁵ Sementara itu, St. Agustinus (†430) memahami sakramen sebagai verbum visibile, yakni Sabda Allah yang menjadi nyata dan dapat dialami oleh umat.⁶ Dengan demikian, liturgi menjadi tempat perjumpaan antara pewartaan iman dan penghayatan iman.
3. Pembaruan Liturgi dan Kembali ke Sumber Tradisi
Pembaruan liturgi tidak dimaksudkan untuk menciptakan liturgi baru yang terputus dari masa lalu. Sebaliknya, pembaruan sejati menimba inspirasi dari Gereja perdana dan Bapa-Bapa Gereja, karena di sanalah iman apostolik dihayati secara autentik. Prinsip ressourcement menekankan bahwa pembaruan bertujuan memperdalam kesetiaan pada Tradisi, bukan meniadakannya.⁷
4. Liturgi dan Tradisi menurut Sacrosanctum Concilium
Konsili Vatikan II menegaskan dalam Sacrosanctum Concilium bahwa pembaruan liturgi harus bertumbuh secara organik dari Tradisi Gereja. Artikel 23 menyatakan bahwa inovasi hanya dibenarkan jika sungguh diperlukan dan tetap setia pada iman Gereja.⁸ Liturgi dengan demikian dipahami sebagai Tradisi yang hidup: setia pada warisan Gereja dan sekaligus terbuka terhadap perkembangan yang sah.
5. Liturgi sebagai Jalan Mengakar dalam Tradisi Iman
Liturgi merupakan sarana utama untuk mengakarkan umat beriman dalam Tradisi iman Kristiani. Dalam liturgi, Kitab Suci dibacakan, iman diakui, dan sakramen dirayakan. Tradisi tidak hanya dipelajari secara intelektual, tetapi dialami secara eksistensial. Melalui partisipasi aktif dalam liturgi, umat masuk ke dalam arus iman Gereja sepanjang zaman.⁹
6. Mengenal Tradisi sebagai Proses yang Berkelanjutan
Tradisi tidak dapat dihargai tanpa pengenalan yang mendalam. Pengenalan Tradisi bukan pengenalan sesaat, melainkan proses berkelanjutan melalui doa, liturgi, studi teologis, dan penghayatan hidup kristiani. Tanpa proses ini, Tradisi mudah direduksi menjadi kebiasaan kuno, padahal sesungguhnya ia adalah kehidupan iman Gereja yang terus mengalir sejak zaman para rasul.¹⁰
Penutup
Liturgi dan Tradisi merupakan dua realitas yang tidak terpisahkan. Berakar dalam Kitab Suci dan kesaksian Bapa-Bapa Gereja, liturgi menjadi tempat di mana iman Gereja diwariskan secara hidup. Oleh karena itu, pembaruan liturgi yang sejati selalu berpijak pada Tradisi, agar Gereja tetap setia pada identitasnya sekaligus relevan bagi umat di setiap zaman.
Jakarta, 2 Februari 2026
Catatan Kaki
1. Kis. 2:42.
2. 1Kor. 11:23–26.
3. Luk. 24:30–35.
4. Justin Martyr, First Apology, no. 65–67.
5. Irenaeus of Lyons, Adversus Haereses, I, 10, 1.
6. Augustine, Sermon 272.
7. Yves Congar, Tradition and Traditions (London: Burns & Oates, 1966), 67–72.
8. Vatican Council II, Sacrosanctum Concilium, no. 23.
9. Josef A. Jungmann, The Mass of the Roman Rite (New York: Benziger, 1951), 15–20.
10. Joseph Ratzinger, The Spirit of the Liturgy (San Francisco: Ignatius Press, 2000), 9–14.
Bibliography
Agustinus. Sermons.
Congar, Yves. Tradition and Traditions. London: Burns & Oates, 1966.
Irenaeus of Lyons. Adversus Haereses.
Jungmann, Josef A. The Mass of the Roman Rite. New York: Benziger, 1951.
Justin Martyr. First Apology.
Ratzinger, Joseph. The Spirit of the Liturgy. San Francisco: Ignatius Press, 2000.
Vatican Council II. Sacrosanctum Concilium.











