PEMBARUAN JANJI PERKAWINAN “Datanglah dan Tinggallah Bersama-Ku” (Yohanes 1:35–42)
Injil Yohanes 1:35-42 hari Minggu Biasa II (18 Januari 2026) sangat sederhana. Tidak ada mukjizat besar. Tidak ada kata-kata keras. Yang ada hanyalah tatapan Yesus, sebuah pertanyaan, dan sebuah undangan. Yesus bertanya kepada dua murid: “Apa yang kamu cari?” Pertanyaan ini sangat penting, karena Yesus tidak memulai dengan tuntutan, tetapi dengan kerinduan.
1. “Apa yang Kamu Cari?”
Pertanyaan Yesus hari ini seakan diarahkan kepada setiap pasangan suami-istri: Apa yang kamu cari ketika dahulu kamu saling memilih? Apa yang kamu cari ketika kamu berdiri di hadapan altar dan berjanji setia? Dan hari ini, setelah luka, kekecewaan, kelelahan, apa yang kamu cari sekarang? Boleh jawabanya bukan lagi romantisme. Mungkin yang dicari hari ini Adalah ketenangan, pengertian, dihargai kembali, atau sekadar idengarkan. Yesus tidak menilai jawaban itu. Yesus tidak berkata,“Mengapa kamu tidak seperti dulu?” Ia hanya bertanya, karena Tuhan menghormati perjalanan kita.
2. “Di Mana Engkau Tinggal?” Ini adalah Kerinduan akan Kehadiran nyata. Para murid menjawab: “Rabi, di manakah Engkau tinggal?”Menurut Injil Yohanes, seperti dijelaskan Raymond E. Brown, kata tinggal bukan soal empat fisik. Tinggal berarti hidup bersama, bertahan dalam relasi, tidak pergi ketika keadaan menjadi sulit. Bukankah ini juga inti dari perkawinan? Dalam krisis, sering kali yang paling hilang bukan cinta, tetapi kehadiran: hadir tanpa gawai, hadir tanpa menghakimi, hadir tanpa niat menyerang atau membela diri. Pertanyaan murid itu adalah jeritan hati manusia: Tuhan, di mana Engkau tinggal ketika rumah tangga kami terasa dingin?
3. “Marilah dan Kamu Akan Melihat” Jalan Penyembuhan
Yesus menjawab dengan undangan yang sangat sederhana: “Marilah dan kamu akan melihat.”Yesus tidak berkata: “Kamu akan langsung sembuh.”
Ia tidak berkata: “Semua akan mudah.”Ia mengundang untuk datang dan tinggal. Inilah jalan penyembuhan perkawinan: bukan jalan instan,
tetapi jalan kehadiran yang setia. Bagi pasutri, datang kepada Yesus berarti: membawa luka, bukan menutupinya, membawa kekecewaan, bukan memendamnya, membawa kelemahan, bukan menyembunyikannya.
Dan tinggal bersama Yesus berarti: tidak menyerah pada keputusasaan, tidak membiarkan ego menjadi pusat, memberi ruang bagi rahmat Tuhan bekerja perlahan.
4. Tatapan Yesus yang Menamai Ulang Relasi
Injil berkata: “Yesus memandang Simon”Tatapan Yesus bukan tatapan penghakiman, melainkan tatapan penyembuhan. Lalu Yesus memberi Simon nama baru. Dalam krisis perkawinan, pasangan sering saling memberi nama lama: egois, dingin, tidak berubah, tidak setia, tidak peduli.
Hari ini Yesus ingin menamai ulang relasi suami-istri: dari “kamu selalu salah” menjadi “kita sedang belajar”, dari “aku sendirian” menjadi “kita berjuang bersama”, dari “sudah terlambat” menjadi “masih mungkin oleh rahmat”. Yesus melihat bukan hanya siapa kita hari ini, tetapi siapa kita bisa menjadi jika Dia diizinkan tinggal di tengah relasi kita.
5. Pembaruan Janji: kembali ke Inti
Pembaruan janji perkawinan hari ini bukan pengulangan kata-kata lama. Ini adalah keputusan baru untuk tinggal. Tinggal: ketika perasaan naik turun, ketika komunikasi tidak lancar, ketika pengampunan harus diulang lagi dan lagi. Yesus tidak meminta pasangan menjadi sempurna. Ia meminta satu hal: “Biarkan Aku tinggal bersama kamu.” Karena ketika Kristus tinggal: yang keras mulai dilunakkan, yang dingin mulai dihangatkan, yang retak mulai disatukan.
Penutup
Hari ini Yesus berdiri di tengah suami dan istri dan berkata dengan lembut: Datanglah. Tinggallah bersama-Ku. Jangan lari. Jangan menyerah.Dan ketika kita memperbarui janji perkawinan, kita tidak hanya berkata kepada pasangan: “Aku memilih engkau.”tetapi juga berkata kepada Tuhan: “Tinggallah bersama kami.” Kiranya dari kehadiran-Nya, penyembuhan dimulai, dan janji yang lama diperbarui oleh rahmat yang baru.











