DARI LITURGI KE MISI – GEREJA YANG MERAYAKAN DAN MEWARTAKAN
GEREJA pada awal abad ke-21 berada dalam ketegangan yang nyata antara dua kecenderungan ekstrem: di satu sisi ritualisme yang tertutup pada dirinya sendiri, dan di sisi lain aktivisme pastoral yang miskin akar rohani. Dalam konteks inilah ajaran Paus Fransiskus, khususnya melalui Evangelii Gaudium (2013) dan Desiderio Desideravi (2022), menawarkan sebuah sintesis teologis yang mendalam dan profetis. Dokumen Evangelii Gaudium lahir pada awal pontifikat Paus Fransiskus, sebagai program besar kepausannya. Berangkat dari pengalaman Sinode Para Uskup tentang Evangelisasi Baru, Paus Fransiskus menegaskan panggilan Gereja untuk keluar, bersukacita, dan mewartakan Injil secara misioner—bukan Gereja yang tertutup, tetapi Gereja yang dekat dengan dunia, terutama kaum miskin. Kata kunci: sukacita Injil, Gereja yang bermisi, pembaruan pastoral. Sedang Desiderio Desideravi (2022) lahir dalam konteks keprihatinan Paus terhadap cara Gereja merayakan liturgi. Paus mengajak umat kembali pada makna terdalam liturgi sebagai perjumpaan nyata dengan Kristus yang bangkit, bukan sekadar ritual atau perdebatan bentuk. Judulnya mengutip kerinduan Yesus sendiri untuk merayakan Paskah bersama murid-murid-Nya. Kata kunci: liturgi sebagai perjumpaan, formasi liturgis, misteri Paskah. Kedua dokumen ini, meskipun berbeda genre dan fokus, dipersatukan oleh satu visi eklesiologis yang sama: Gereja hidup dari perjumpaan dengan Kristus yang bangkit dan diutus untuk mewartakan Injil sebagai sukacita bagi dunia.
Tulisan ini bertujuan menunjukkan kesatuan intrinsik antara liturgi dan misi. Liturgi bukanlah sekadar salah satu aktivitas Gereja, melainkan sumber dan puncak seluruh hidupnya, sementara misi bukanlah tugas tambahan, melainkan ekspresi eksistensial dari apa yang dirayakan Gereja. Dengan demikian, apa yang dirayakan di altar harus berlanjut dalam kesaksian hidup umat di tengah dunia.
I. Liturgi sebagai Sumber Pengalaman Iman
Dalam Desiderio Desideravi, Paus Fransiskus menegaskan kembali inti terdalam liturgi: liturgi adalah perjumpaan nyata dengan Kristus yang wafat dan bangkit dalam Misteri Paskah. Liturgi bukan pertama-tama soal pemahaman intelektual atau kepatuhan rubrikal, melainkan tindakan Kristus sendiri yang melibatkan Gereja-Nya. Dalam liturgi, misteri keselamatan tidak hanya dikenangkan, tetapi dihadirkan dan dialami secara sakramental.
Pandangan ini sejalan dengan ajaran Sacrosanctum Concilium yang menyatakan bahwa liturgi adalah puncak yang kepadanya kegiatan Gereja diarahkan dan sekaligus sumber dari mana mengalir seluruh kekuatannya (SC 10). Oleh karena itu, pengalaman iman Kristen berakar bukan pada gagasan abstrak, melainkan pada partisipasi konkret dalam misteri yang dirayakan. Liturgi membentuk cara Gereja percaya (lex credendi) sekaligus cara Gereja hidup (lex vivendi).
Paus Fransiskus juga menekankan pentingnya formasi liturgis yang sejati. Formasi ini bukan sekadar pengajaran teknis tentang tata perayaan, tetapi pembentukan rohani yang memungkinkan umat memasuki kedalaman misteri. Di sinilah dimensi mistagogis liturgi menjadi krusial: umat diajak memahami makna tanda-tanda liturgi melalui pengalaman iman yang hidup.
II. Sukacita Injil sebagai Dinamika Misi
Jika liturgi adalah sumber, maka misi adalah buah yang tak terelakkan. Evangelii Gaudium membuka dengan penegasan bahwa sukacita Injil memenuhi hati dan hidup semua orang yang berjumpa dengan Yesus Kristus. Sukacita ini tidak dapat disimpan bagi diri sendiri; ia mendorong Gereja untuk keluar dari dirinya dan hadir di tengah dunia.
Paus Fransiskus menggambarkan Gereja sebagai Gereja yang “keluar”, yang tidak takut terluka karena berada di jalan, daripada sakit karena tertutup dalam kenyamanan. Visi ini berakar pada kristologi dan eklesiologi Konsili Vatikan II, khususnya Lumen Gentium, yang menegaskan bahwa Gereja pada hakikatnya adalah sakramen keselamatan bagi dunia (LG 1).
Misi Gereja bukan propaganda religius, melainkan kesaksian hidup yang lahir dari perjumpaan. Di sini pewartaan Injil selalu bersifat personal, inkarnatoris, dan berpihak pada yang kecil dan miskin. Preferensi bagi kaum miskin bukan strategi pastoral, melainkan konsekuensi langsung dari iman akan Kristus yang hadir dalam diri mereka.
III. Gerak Ganda Gereja: Masuk ke Misteri, Keluar ke Dunia
Kesatuan antara liturgi dan misi dapat dipahami sebagai gerak ganda Gereja: masuk dan keluar. Gereja masuk ke dalam misteri Allah melalui liturgi, dan keluar ke dunia melalui misi. Kedua gerak ini tidak dapat dipisahkan tanpa merusak hakikat Gereja itu sendiri.
Tanpa liturgi, misi berisiko menjadi aktivisme sosial yang kehilangan dimensi transenden. Sebaliknya, tanpa misi, liturgi berisiko menjadi ritual yang tertutup dan steril. Ekaristi, sebagai sakramen par excellence, menyingkapkan kesatuan ini: perayaan Ekaristi selalu berakhir dengan pengutusan, mengutus umat untuk menjadi saksi dari apa yang telah mereka terima.
Pemikiran Joseph Ratzinger menegaskan bahwa liturgi membentuk ethos Gereja. Apa yang dirayakan akan membentuk cara Gereja memahami dunia dan bertindak di dalamnya. Oleh karena itu, krisis iman dan krisis misi sering kali berakar pada krisis liturgi yang kehilangan kedalaman misterinya.
IV. Formasi Integral: Liturgis, Pastoral, dan Misioner
Paus Fransiskus menekankan bahwa pembaruan Gereja hanya mungkin melalui formasi yang integral. Formasi liturgis tidak dapat dipisahkan dari formasi pastoral dan misioner. Liturgi membentuk kepekaan rohani, pastoral mengarahkan perhatian pada umat konkret, dan misi membuka Gereja pada dunia.
Yves Congar menegaskan bahwa Gereja sejati adalah Gereja yang terus-menerus diperbarui oleh Roh Kudus. Pembaruan ini tidak datang dari strategi semata, melainkan dari kesetiaan pada sumber-sumber iman: Sabda dan Sakramen. Karl Rahner, dari sudut pandang antropologis-teologis, menekankan bahwa pengalaman akan Allah selalu bersifat historis dan konkret, dan liturgi adalah ruang privilegiat pengalaman tersebut.
Formasi mistagogis menjadi jembatan antara liturgi dan kehidupan. Melalui katekese yang berakar pada perayaan, umat belajar membaca hidup mereka sendiri dalam terang Misteri Paskah.
V. Implikasi Pastoral Kontekstual
Kesatuan liturgi dan misi menuntut implikasi konkret dalam kehidupan Gereja lokal. Perayaan liturgi harus membentuk umat yang peka terhadap penderitaan, ketidakadilan, dan tantangan zaman. Dari Misa, umat diutus untuk membangun solidaritas, memperjuangkan keadilan, dan menghadirkan belas kasih Allah dalam realitas sosial.
Dalam konteks modern yang ditandai individualisme dan fragmentasi, liturgi menjadi ruang pembentukan komunio. Dari komunio inilah lahir kesaksian Gereja di tengah dunia digital, ekonomi global, dan pluralitas budaya.
Penutup
Liturgi dan misi bukan dua realitas yang berdiri sendiri, melainkan dua dimensi dari satu misteri Gereja. Apa yang dirayakan Gereja dalam liturgi harus menjadi apa yang dihidupi dan diwartakan dalam dunia. Dengan demikian, Gereja sungguh menjadi apa yang ia rayakan: Tubuh Kristus yang hidup bagi keselamatan dunia.
DAFTAR PUSTAKA
Congar, Yves. I Believe in the Holy Spirit. Vol. 2. New York: Crossroad, 1997. ———. True and False Reform in the Church. Translated by Paul Philibert. Collegeville, MN: Liturgical Press, 2011.
Francis. Desiderio Desideravi. Apostolic Letter, 2022. ———. Evangelii Gaudium. Apostolic Exhortation, 2013.
John Paul II. Catechism of the Catholic Church. Vatican City: Libreria Editrice Vaticana, 1992.
Kavanagh, Aidan. On Liturgical Theology. Collegeville, MN: Liturgical Press, 1984.
Rahner, Karl. Foundations of Christian Faith. Translated by William V. Dych. New York: Crossroad, 1978. ———. The Church and the Sacraments. New York: Herder and Herder, 1963.
Ratzinger, Joseph. Called to Communion. San Francisco: Ignatius Press, 1996. ———. The Feast of Faith. San Francisco: Ignatius Press, 1986. ———. The Spirit of the Liturgy. Translated by John Saward. San Francisco: Ignatius Press, 2000.
Second Vatican Council. Gaudium et Spes. Vatican City, 1965. ———. Lumen Gentium. Vatican City, 1964. ———. Sacrosanctum Concilium. Vatican City, 1963.











