HOMILI HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS
Saudara-saudari terkasih, Hari Raya Tritunggal Mahakudus mengajak kita merenungkan misteri terdalam iman Kristiani. Kita percaya kepada satu Allah, namun Allah itu menyatakan diri sebagai Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Misteri ini bukan pertama-tama sebuah teori yang harus dipahami, melainkan sebuah kasih yang harus dialami.
Sering kali orang bertanya: bagaimana mungkin Allah itu satu tetapi tiga? Gereja tidak pernah berusaha menjelaskan Allah secara tuntas. Hari Raya Tritunggal Mahakudus memang mengundang kita bukan terutama untuk “memecahkan” misteri Allah, melainkan untuk masuk ke dalam misteri kasih-Nya. Seluruh sejarah keselamatan, dari Sinai hingga Golgota, memperlihatkan satu kebenaran yang sama: Allah adalah kasih yang keluar dari diri-Nya, mencari manusia, mengampuni manusia, dan mengangkat manusia masuk ke dalam persekutuan hidup-Nya.
Dalam bacaan pertama, bangsa Israel baru saja melakukan dosa besar dengan menyembah anak lembu emas. Mereka telah mengkhianati perjanjian dengan Tuhan. Secara manusiawi, mereka pantas dihukum. Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Ketika Musa naik ke Gunung Sinai, Tuhan memperkenalkan diri-Nya dengan kata-kata yang sangat indah: “TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih dan setia.”Allah tidak pertama-tama memperkenalkan diri sebagai Allah yang menghukum, melainkan sebagai Allah yang berbelas kasih. Bahkan ketika umat-Nya jatuh dalam dosa, hati Allah tetap terbuka untuk mengampuni. Maka Musa bersujud dan memohon: “Berjalanlah kiranya Tuhan di tengah-tengah kami.”
Inilah kerinduan terbesar umat beriman, yaitu bukan hanya menerima berkat dari Allah, melainkan mengalami kehadiran Allah sendiri dalam hidup mereka. Kerinduan itu mencapai puncaknya dalam Injil hari ini. Yesus berkata:”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.”
Ayat ini begitu sering kita dengar sehingga kadang kita tidak lagi merasakan kedalamannya. Allah mengasihi manusia bukan karena manusia sempurna. Justru manusia yang berdosa, lemah, dan sering menjauh dari-Nya itulah yang dikasihi-Nya. Kasih Allah selalu mendahului pertobatan manusia. Kasih itu menjadi nyata ketika Bapa mengutus Putra-Nya ke dunia. Yesus datang bukan untuk menghukum, melainkan untuk menyelamatkan.
Ini adalah kabar sukacita yang sangat penting. Banyak orang membayangkan Allah sebagai hakim yang selalu mencari kesalahan manusia. Namun Injil hari ini memperlihatkan wajah Allah yang berbeda: Allah yang mencari manusia, Allah yang mendekati manusia, dan Allah yang rela memberikan Putra-Nya demi keselamatan manusia. Memang Yesus juga berkata bahwa orang yang tidak percaya berada di bawah hukuman. Akan tetapi bukan karena Allah ingin menghukum. Allah menawarkan keselamatan kepada semua orang.
Dalam bacaan kedua, Santo Paulus menutup suratnya dengan sebuah berkat yang sampai sekarang masih digunakan dalam liturgi Gereja: “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.” Di sini kita melihat gambaran indah tentang kehidupan Tritunggal. Bapa adalah sumber kasih. Putra adalah wajah kasih yang menyelamatkan. Roh Kudus adalah kasih yang mempersatukan. Melalui Roh Kudus, kita tidak hanya mengenal Allah dari jauh, tetapi diundang masuk ke dalam kehidupan-Nya sendiri. Saudara-saudari, Hari Raya Tritunggal Mahakudus mengajarkan bahwa pada dasar terdalam segala sesuatu terdapat kasih dan persekutuan.
Di zaman sekarang banyak orang merasa kesepian. Teknologi berkembang pesat, tetapi hubungan antarmanusia sering menjadi rapuh. Kita dapat terhubung dengan banyak orang melalui layar, tetapi belum tentu mengalami kedekatan hati. Tritunggal Mahakudus mengingatkan kita bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah yang hidup dalam persekutuan kasih. Karena itu manusia hanya menemukan kebahagiaan sejati ketika belajar mengasihi, berbagi, mengampuni, dan membangun persaudaraan.
Setiap kali kita membuat tanda salib dan berkata: “Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus,” kita sebenarnya sedang mengingat identitas terdalam hidup kita. Kita dibaptis dalam nama Tritunggal. Kita berdoa kepada Bapa melalui Putra dalam Roh Kudus. Kita hidup dari kasih Tritunggal dan dipanggil mewujudkannya dalam keluarga, Gereja, dan masyarakat.
Akhirnya, Hari Raya Tritunggal Mahakudus mengingatkan bahwa tujuan hidup manusia bukan sekadar mencapai keberhasilan duniawi, melainkan masuk ke dalam persekutuan kasih Allah yang kekal. Karena itu Gereja tidak meminta kita memahami seluruh misteri Allah. Misteri Allah selalu lebih besar daripada pikiran manusia. Yang diminta adalah tinggal di dalam kasih-Nya: membiarkan diri dikasihi oleh Bapa, diselamatkan oleh Putra, dan dibimbing oleh Roh Kudus. Sebab inti iman Kristiani sesungguhnya sederhana yakni bukan pertama-tama manusia yang mencari Allah, melainkan Allah Tritunggal yang lebih dahulu mencari manusia.
Semoga homili ini membantu kita tidak hanya memahami Tritunggal Mahakudus dengan akal budi, tetapi juga mengalami-Nya dalam hati dan kehidupan sehari-hari dalam keluarga, komunitas, dan pelayanan. Selamat merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Semoga kasih Bapa, rahmat Putra, dan persekutuan Roh Kudus senantiasa menyertai pelayanan dan karya pewartaan kita, Amin (JT).











