KRISTUS TELAH BANGKIT DAN LUKA-NYA YANG TETAP ADA

By -Published On: 3 July 2026-Categories: Renungan, Komunitas-Views: 2-

Saudara-saudari terkasih, serpihan ayat yang kelihatan kecil dalam Injil hari ini, ternyata maknanya amat mendalam dan kaya. Setelah bangkit, Yesus menampakkan diri kepada Tomas dan berkata: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku; ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku” (Yoh. 20:27).

Pertanyaannya: mengapa luka itu masih ada? Bukankah kebangkitan berarti kemenangan penuh atas maut? Bukankah tubuh mulia seharusnya bebas dari segala bekas penderitaan? Namun Injil justru menunjukkan sesuatu yang mengejutkan: Kristus bangkit tetap membawa luka-Nya. Luka paku di tangan. Luka tombak di lambung. Bekas penderitaan itu ternyata tidak dihapus setelah kebangkitan. Mengapa? Karena dalam misteri Kristus, luka bukan lagi tanda kehancuran, melainkan tanda kasih.  Luka-luka itu berbicara tanpa kata: “Inilah harga cinta.” “Inilah kasih yang diberikan sampai tuntas.” “Inilah Allah yang mencintai manusia tanpa syarat.”

Salib meninggalkan luka, tetapi kasih memberi makna pada luka itu. Maka kebangkitan tidak menghapus sejarah salib; kebangkitan justru memuliakannya. Maknanya, Yesus tidak bangkit dengan melupakan penderitaan-Nya, melainkan dengan mengubah penderitaan menjadi kemuliaan. Di sini kita menemukan penghiburan besar bagi hidup kita.

Sering kali kita berdoa agar Tuhan menghapus semua luka hidup kita. Begitu banyak luka kita: luka batin, luka relasi, luka kehilangan, luka pengkhianatan, luka kegagalan. Kadang Tuhan memang menyembuhkan lukja itu. Dan ada kalanya Tuhan tidak menghapus luka itu sepenuhnya. Mengapa?

Pertama, untuk meneguhkan iman para murid-Nya. Luka-luka itu menjadi bukti bahwa Dia yang bangkit sungguh Dia yang disalibkan.

Kedua, untuk memperlihatkan kemenangan-Nya. Tradisi Gereja   memakai ungkapan klasik: trophæa victoriae yakni trofi kemenangan. Apa yang dahulu tampak sebagai tanda kekalahan kini berubah menjadi lambang kemenangan.

Ketiga, luka itu tetap ada sebagai tanda kasih abadi di hadapan Bapa. Kristus yang bangkit dan naik ke surga membawa dalam diri-Nya tanda penebusan manusia.

Inilah makna terdalam dari luka Yesus. Dan luka yang dipersatukan dengan Kristus dapat berubah menjadi sumber belas kasih, kebijaksanaan, kerendahan hati, bahkan kekuatan untuk menghibur sesama. Luka yang disentuh rahmat tidak selalu hilang, tetapi tidak lagi melukai dengan cara yang sama. Ia menjadi luka yang dimuliakan. Inilah yang dilihat Tomas. Ia tidak diyakinkan pertama-tama oleh argumen, melainkan oleh luka Kristus. Dan justru ketika berhadapan dengan luka-luka itulah Tomas berseru: “Ya Tuhanku dan Allahku!”

Saudara-saudari, Kadang kita mencari Tuhan dalam hal-hal yang spektakuler seperti: mukjizat, keberhasilan, pengalaman rohani yang luar biasa. Namun sering kali Tuhan justru hadir melalui luka. Pada Kristus, luka menjadi sakramen kasih. Maka ketika kita datang ke altar dan memandang Ekaristi, kita sedang memandang Kristus yang wafat dan bangkit, Kristus yang tetap membawa luka kasih-Nya. Dan di sana kita belajar satu kebenaran besar. Yaitu Luka yang dipersembahkan kepada Allah tidak berakhir dalam kehancuran, tetapi dapat diubah menjadi kemuliaan. Karena itu, jangan takut membawa luka-luka hidup kita kepada Kristus. Sebab di dalam luka-Nya, luka kita menemukan makna.

Di dalam salib-Nya, salib kita memperoleh harapan. Dan di dalam kebangkitan-Nya, luka kita tidak lagi menjadi akhir cerita. Kasih yang melukai hati seorang ibu demi anaknya, pengorbanan seorang ayah demi keluarga, kesetiaan seorang imam dalam pelayanan, pengampunan seseorang yang dikhianati, semua luka kasih itu tidak sia-sia. Dalam Kristus kita belajar bahwa kasih yang sungguh mengasihi hampir selalu meninggalkan luka. Namun luka itu bukan akhir. Jika dipersatukan dengan Kristus, luka kasih dapat dimurnikan, ditebus, dan dimuliakan. Karena itu, kebangkitan bukanlah penghapusan luka, melainkan pewahyuan makna terdalam luka-luka.

Luka yang dahulu menjadi tanda penderitaan kini menjadi bahasa kemuliaan. Dan dari sana Gereja belajar satu kebenaran yang meneguhkan bahwa di hadapan Allah, kasih yang sejati tidak pernah hilang. Kasih itu dikenang. Kasih itu ditebus. Kasih itu dimuliakan. Di surga, Kristus tidak membawa mahkota emas tanpa luka; Ia membawa kemuliaan-Nya yang masih memancarkan bekas kasih salib. Amin (JT).

Wartakan kabar baik ini kepada sesamamu

“Umat terkasih, mari kita wujudkan Kasih Kristus yang hidup melalui persembahan yang datang dari hati yang bersyukur. Gereja adalah rumah iman dan persembahan Anda adalah nadi yang memastikan api pelayanan, kegiatan rohani, dan kesatuan komunitas kita terus menyala terang bagi sesama. Mari kita wujudkan kerinduan hati untuk terus bertumbuh dan berbuah. Berikan yang terbaik, bukan karena kewajiban, tetapi karena Kasih.”

Leave A Comment

Artikel Terbaru

Mars Regina Caeli

Bersama Bunda Maria Ratu Surgawi,
umat Allah Regina Caeli melangkah pasti.
Semakin setia pada Yesus semakin mengabdi sesama, dalam keluarga yang kudus umat basis jaya.
Pegang teguh semboyan:
Berakar dalam Iman, Bertumbuh dalam persaudaraan, berbuah dalam pelayanan
Ukirkan tekad dan kobarkan bara semangat: Mencintai Ekaristi; Mendalami sabda Ilahi;
Bersaudara yang sejati, berbagi hati,
melayani dengan kasih yang lemah dan letih.
Jadilah laskar Kristus Regina Caeli