LITURGI: SAAT “AKU” MENJADI “KITA”

By -Published On: 3 August 2026-Categories: Renungan, Komunitas-Views: 5-

ROMANO GUARDINI membuka pembahasannya mengenai hakikat liturgi. (lihat: Romano Guardini. 1931. The Spirit of the Liturgy. Translated by Ada Lane. New York:  Benziger Brothers, pp.: 26-32). Guardini menyatakan: “Liturgi tidak berkata ‘aku’, melainkan ‘kita’.” Kalimat yang sederhana ini sesungguhnya mengungkapkan salah satu kekayaan terbesar iman Katolik. Liturgi bukanlah doa seorang pribadi yang kebetulan dilakukan bersama orang lain. Liturgi adalah doa Gereja, Tubuh Kristus, yang dipanjatkan kepada Allah.

Di tengah budaya modern yang sangat menonjolkan pengalaman pribadi, Guardini mengajak kita menemukan kembali bahwa dalam liturgi, “aku” dipersatukan ke dalam “kita”. Di sanalah letak keindahan dan kekuatan liturgi.

Liturgi Bukan Milik Individu

Ketika mengikuti Perayaan Ekaristi, kita sering membawa berbagai macam intensi, seperti bersyukur atas berkat yang diterima, memohon kesembuhan, mendoakan keluarga, atau mengenangkan orang-orang yang telah meninggal. Semua itu baik dan benar. Namun Guardini mengingatkan bahwa ketika liturgi dimulai, kita memasuki suatu kenyataan yang lebih besar daripada kepentingan pribadi kita. Kita tidak lagi berdiri di hadapan Allah sebagai pribadi yang terpisah, melainkan sebagai anggota Gereja. Karena itu doa-doa liturgi hampir selalu menggunakan kata “kami” atau “kita”. Gereja sedang berdoa, dan kita mengambil bagian di dalam doa itu.

“Kita” yang Melampaui Ruang dan Waktu

Persekutuan liturgi tidak terbatas pada orang-orang yang duduk di dalam gereja pada saat itu. Ketika sebuah Misa dirayakan di sebuah kapel kecil, Gereja di seluruh dunia juga sedang mempersembahkan Ekaristi yang sama. Lebih dari itu, Gereja yang masih berziarah di dunia dipersatukan dengan Gereja yang telah dimuliakan di surga.

Dalam setiap liturgi, kita berada dalam persekutuan dengan para rasul, para martir, para kudus, dan semua orang beriman sepanjang sejarah. Liturgi menjadi tanda nyata bahwa Gereja adalah satu, kudus, katolik, dan apostolik.

Gereja adalah Tubuh Kristus

Mengapa hal itu mungkin? Karena Gereja bukan sekadar organisasi keagamaan. Gereja adalah Tubuh Mistik Kristus.

Kristus adalah Kepala, sedangkan kita adalah anggota-anggotanya. Kehidupan Kristus mengalir dalam diri umat beriman melalui Roh Kudus. Oleh sebab itu, kesatuan Gereja bukan hanya kesatuan cita-cita atau aturan, melainkan kesatuan hidup.

Dalam liturgi, Kristus sendiri bertindak melalui Gereja-Nya. Kita ikut ambil bagian dalam tindakan Kristus yang memuliakan Bapa dan menguduskan umat manusia.

Liturgi Memiliki Dimensi Objektif

Salah satu sumbangan besar Romano Guardini ialah penegasannya bahwa liturgi memiliki sifat objektif. Artinya, liturgi tidak bergantung pada suasana hati, selera, atau pengalaman pribadi kita. Nilai liturgi berasal dari Kristus yang berkarya melalui Gereja.

Misa tetap merupakan kurban Kristus, entah umat yang hadir banyak atau sedikit, entah koornya bernyanyi dengan sangat indah ataupun sederhana, entah imam berkhotbah dengan memikat ataupun biasa saja.

Objektivitas liturgi menjaga kita agar tidak menjadikan ibadat sebagai ukuran perasaan pribadi. Liturgi adalah karya Allah (opus Dei) yang dipercayakan kepada Gereja. Oleh karena itu, pusat liturgi bukanlah manusia, melainkan Allah sendiri.

Kesadaran ini juga menjelaskan mengapa Gereja memiliki tata liturgi yang harus dihormati. Aturan-aturan liturgi bukan sekadar soal disiplin, melainkan sarana untuk menjaga agar seluruh Gereja merayakan misteri Kristus dengan setia.

Liturgi Juga Memiliki Dimensi Subjektif

Objektivitas liturgi tidak berarti bahwa umat hanya menjadi penonton yang pasif. Liturgi juga mempunyai dimensi subjektif, yaitu keterlibatan seluruh pribadi manusia. Allah menghendaki agar setiap orang beriman ikut ambil bagian secara sadar, aktif, dan penuh iman.

Hati yang terbuka, pikiran yang mendengarkan Sabda, suara yang menyanyikan pujian, tubuh yang berdiri, duduk, berlutut, tangan yang memberi salam damai yakni semuanya menjadi ungkapan bahwa manusia seutuhnya ikut mengambil bagian dalam ibadat. Dengan demikian, objektif dan subjektif bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Justru keduanya saling melengkapi. Objektivitas menjamin bahwa liturgi tetap merupakan karya Kristus dan Gereja. Subjektivitas memungkinkan setiap orang mengalami buah-buah rahmat yang diberikan Allah melalui liturgi.

Bila hanya menekankan dimensi subjektif, liturgi mudah berubah menjadi pencarian pengalaman emosional. Sebaliknya, bila hanya menekankan dimensi objektif, liturgi dapat terasa dingin dan formal. Gereja memadukan keduanya secara harmonis.

Dari “Aku” Menjadi “Kita”

Di zaman sekarang orang sering bertanya, “Apakah saya merasa terberkati?” atau “Apakah saya tersentuh oleh Misa hari ini?” Pertanyaan itu tidak salah, tetapi bukan yang pertama.

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: Apakah saya sungguh ikut ambil bagian dalam doa Gereja? Apakah saya membiarkan diri dipersatukan dengan Kristus dan dengan seluruh umat Allah? Bila jawabannya ya, maka liturgi telah mencapai tujuannya. Sebab liturgi bukan pertama-tama mengubah suasana hati kita, melainkan mengubah diri kita menjadi semakin serupa dengan Kristus.

Dari Budaya Konsumsi Menuju Budaya Partisipasi

Di zaman sekarang, banyak orang tanpa sadar membawa cara berpikir budaya konsumsi ke dalam kehidupan menggereja. Dalam dunia konsumsi, segala sesuatu dinilai dari pengalaman pribadi. Sebuah restoran dinilai dari rasa makanannya, sebuah film dari tingkat hiburannya, sebuah tempat wisata dari kepuasan yang diberikannya. Ukurannya selalu sama: “Apa yang saya peroleh?

Cara berpikir seperti ini dapat menyusup ke dalam liturgi. Orang mulai bertanya, “Apakah saya merasa terberkati?”, “Apakah homilinya menarik?”, “Apakah musiknya menyentuh?”, atau “Apakah saya pulang dengan perasaan puas?”

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak salah. Allah memang dapat menyentuh hati manusia melalui homili yang baik, nyanyian yang indah, atau suasana doa yang khusyuk. Namun, menurut Romano Guardini, pertanyaan-pertanyaan itu bukanlah pertanyaan yang pertama dan utama.

Liturgi bukanlah sebuah “produk rohani” yang kita konsumsi. Liturgi adalah tindakan Kristus bersama Gereja-Nya. Dalam liturgi kita tidak datang sebagai pelanggan yang menilai mutu pelayanan, melainkan sebagai anggota Tubuh Kristus yang mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah.

Budaya digital semakin memperkuat kecenderungan ini. Algoritma media sosial dirancang untuk menampilkan apa yang sesuai dengan selera kita. Semakin sering kita menyukai jenis konten tertentu, semakin banyak konten serupa yang disajikan. Lama-kelamaan kita terbiasa hidup dalam dunia yang berpusat pada preferensi pribadi. Kita memilih apa yang ingin kita lihat, dengar, dan ikuti. Bahkan tanpa sadar kita berharap segala sesuatu dapat disesuaikan dengan keinginan kita.

Akibatnya, cara berpikir algoritmis itu dapat terbawa ke dalam liturgi. Muncul harapan agar Misa selalu sesuai dengan selera pribadi: lagu-lagunya harus cocok dengan preferensi saya, homilinya harus menghibur saya, suasananya harus membuat saya nyaman, bahkan durasinya harus sesuai dengan ekspektasi saya. Ketika harapan itu tidak terpenuhi, orang mudah berkata, “Misa hari ini kurang berkesan.”

Di sinilah Guardini mengajak kita melakukan pembalikan cara berpikir. Liturgi bukanlah tempat di mana Allah memenuhi seluruh selera kita. Liturgi adalah tempat di mana Allah membentuk kita menurut kehendak-Nya. Bukan liturgi yang harus menyesuaikan diri dengan keinginan kita, melainkan kita yang dibentuk oleh liturgi agar semakin menyerupai Kristus.Karena itu, Gereja mengajak umat beralih dari budaya konsumsi menuju budaya partisipasi. Dalam budaya konsumsi, pertanyaan utamanya adalah, “Apa yang saya dapatkan?” Dalam budaya partisipasi, pertanyaan utamanya menjadi, “Bagaimana saya ambil bagian dalam karya Kristus yang sedang dirayakan oleh Gereja?”

Partisipasi yang dimaksud bukan pertama-tama berarti melakukan banyak tugas dalam liturgi. Seseorang dapat menjadi lektor, organis, pemazmur, atau petugas liturgi lainnya, tetapi tetap tidak sungguh berpartisipasi apabila hatinya tidak bersatu dengan doa Gereja. Sebaliknya, seorang lansia yang duduk tenang di bangku gereja, mengikuti doa dengan penuh iman, sesungguhnya sedang mengambil bagian secara mendalam dalam liturgi.

Pada akhirnya, liturgi mengajarkan sesuatu yang sangat berlawanan dengan logika media sosial. Dunia digital membentuk kita untuk terus bertanya, “Apakah ini sesuai dengan saya?” Liturgi justru mengajak kita bertanya, “Apakah saya semakin dipersatukan dengan Kristus dan dengan Gereja-Nya?”

Perubahan pertanyaan inilah yang menjadi awal pembaruan hidup liturgis. Dari mencari pengalaman pribadi, kita belajar memasuki misteri Kristus. Dari menjadi penonton, kita menjadi peserta. Dari budaya konsumsi, kita bertumbuh menuju budaya persekutuan dan partisipasi.

Penutup

Romano Guardini mengajarkan bahwa setiap kali liturgi dirayakan, kita memasuki suatu kenyataan yang jauh lebih besar daripada diri kita sendiri. Kita bergabung dalam doa Gereja yang melampaui ruang dan waktu. Kita dipersatukan dengan Kristus sebagai Kepala dan dengan seluruh anggota Tubuh-Nya.

Di dalam liturgi, “aku” tidak dihapuskan, tetapi disempurnakan menjadi “kita”. Pengalaman pribadi tetap mempunyai tempat, tetapi selalu berada dalam pelukan Gereja yang berdoa. Liturgi menjadi perjumpaan antara karya Allah yang objektif dan jawaban iman manusia yang subjektif. Ketika kedua dimensi itu bertemu, liturgi sungguh menjadi sumber dan puncak kehidupan Kristiani, tempat Allah memuliakan manusia dan manusia memuliakan Allah (JT).

Wartakan kabar baik ini kepada sesamamu

“Umat terkasih, mari kita wujudkan Kasih Kristus yang hidup melalui persembahan yang datang dari hati yang bersyukur. Gereja adalah rumah iman dan persembahan Anda adalah nadi yang memastikan api pelayanan, kegiatan rohani, dan kesatuan komunitas kita terus menyala terang bagi sesama. Mari kita wujudkan kerinduan hati untuk terus bertumbuh dan berbuah. Berikan yang terbaik, bukan karena kewajiban, tetapi karena Kasih.”

Leave A Comment

Artikel Terbaru

Mars Regina Caeli

Bersama Bunda Maria Ratu Surgawi,
umat Allah Regina Caeli melangkah pasti.
Semakin setia pada Yesus semakin mengabdi sesama, dalam keluarga yang kudus umat basis jaya.
Pegang teguh semboyan:
Berakar dalam Iman, Bertumbuh dalam persaudaraan, berbuah dalam pelayanan
Ukirkan tekad dan kobarkan bara semangat: Mencintai Ekaristi; Mendalami sabda Ilahi;
Bersaudara yang sejati, berbagi hati,
melayani dengan kasih yang lemah dan letih.
Jadilah laskar Kristus Regina Caeli