HOMILI MISA HUT IMAMAT KE-42
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Hari ini Gereja memperdengarkan kepada kita dua gambaran yang sangat indah. Dalam bacaan pertama, Nabi Amos menyampaikan janji Allah: “Aku akan membangun kembali pondok Daud yang telah roboh.”
Gambaran ini sangat kuat. Allah tidak berkata bahwa Ia akan mencari bangunan baru lalu meninggalkan yang lama. Tidak. Ia memilih membangun kembali yang retak, memperbaiki yang roboh, memulihkan yang terluka.
Inilah cara Allah bekerja. Allah tidak mudah menyerah pada manusia.
Allah tidak membuang yang rapuh. Allah tidak meninggalkan yang retak. Ia justru datang kepada yang rapuh untuk memulihkan. Itulah kisah panggilan setiap imam?
Empat puluh dua tahun imamat bukan empat puluh dua tahun tanpa retak, tanpa lelah, tanpa pergulatan. Imamat bukan perjalanan steril dari luka. Ada masa subur, ada masa kering. Ada sukacita pelayanan, ada air mata yang tidak diketahui umat. Ada saat mewartakan Sabda dengan penuh api, tetapi ada pula saat harus melayani dalam keletihan tubuh dan jiwa. Namun di tengah semuanya, Tuhan tetap setia.
Selama 42 tahun, Tuhan terus berkata: “Aku belum selesai denganmu.” “Aku masih membangun hidupmu.” “Aku masih bekerja melalui tanganmu.” Inilah syukur terdalam seorang imam seperti saya. Syukur bukan pertama-tama karena apa yang telah seorang imam kerjakan, melainkan karena Allah tidak pernah berhenti bekerja dalam dirinya. Injil hari ini memperdalam semuanya. Ketika murid-murid Yohanes Pembaptis bertanya mengapa murid-murid Yesus tidak berpuasa, Yesus menjawab dengan gambaran mempelai: “Dapatkah sahabat mempelai berdukacita selama mempelai itu bersama mereka?” Lalu Yesus memberi dua perumpamaan. Pertama, kain baru pada baju lama. Kedua, anggur baru dalam kantong kulit baru. Pusat pesannya jelas: Kehadiran Kristus selalu membawa kebaruan. Kristus tidak datang sekadar menambal hidup lama kita. Ia datang untuk memperbarui seluruh diri kita.
Sering kali masalah rohani kita, bukan karena Tuhan berhenti memberi rahmat, melainkan karena hati kita kadang masih memakai “kantong kulit lama”. Kita ingin rahmat baru, tetapi dengan pola lama. Kita ingin sukacita Injil, tetapi memelihara kebiasaan lama. Kita ingin pembaruan, tetapi takut berubah. Yesus berkata: Anggur baru membutuhkan kantong baru.
Pesan ini terasa sangat mendalam pada HUT Imamat. Empat puluh dua tahun imamat bisa membawa dua kemungkinan.
Yang pertama: orang menjadi mapan tetapi beku. Yang kedua: orang semakin matang tetapi tetap baru. Yang pertama hidup dari nostalgia. Yang kedua hidup dari rahmat. Seorang imam dipanggil bukan hanya setia pada masa lalu, tetapi juga terbuka pada karya Roh Kudus hari ini. Imamat yang matang bukan imamat yang berkata, “Aku sudah tahu semuanya.” Imamat yang matang berkata, “Tuhan, ajari lagi aku untuk melangkah hari ini.” Imamat yang matang tetap memiliki hati murid. Di sinilah keindahan panggilan imam. Tahbisan memang terjadi sekali. Hari ini, 42 tahun yang lalu, kami berlima, ditahbiskan menjadi imam di Balai Sidang Senayan Jakarta. Tetapi menjadi imam sejati adalah proses seumur hidup.
Setiap Ekaristi membentuk imam kembali. Setiap absolusi memurnikan imam kembali. Setiap homili menegur imam terlebih dahulu sebelum disampaikan kepada umat. Setiap altar memperbarui “ya” seorang imam. Empat puluh dua tahun lalu, ketika tangan Uskup Agung Jakarta, Mgr. Leo Soekoto, SJ ditumpangkan dan doa tahbisan didaraskan, rahmat imamat dicurahkan. Namun rahmat itu tidak berhenti di hari tahbisan, 4 Juli 1984 itu. Rahmat itu terus mengalir.
Hari ini, 42 tahun kemudian, Tuhan masih mencurahkan anggur baru. Bukan anggur nostalgia. Bukan anggur kenangan. Melainkan anggur rahmat yang segar. Inilah doa paling tepat pada ulang tahun imamat: “Tuhan, jangan biarkan aku hidup dari minyak lampau. Tuangkan lagi minyak baru. Jadikan hatiku kantong baru bagi anggur-Mu yang baru.”
Saudara-saudari terkasih, Dalam spiritualitas Santo Augustinus dari Hippo, hidup rohani selalu bergerak dengan prinsip: Si comprehendis, non est Deus (“Jika engkau merasa sudah sepenuhnya memahami, itu bukan Allah.”). Maknanya: bersama Allah, selalu ada kedalaman baru. Demikian juga dengan imamat. Tidak ada imam yang “selesai dibentuk”. Selama hidup, Tuhan tetap membentuk. Maka hari ulang tahun imamat bukan terutama perayaan pencapaian. Ini adalah perayaan kesetiaan Allah. Bukan pertama-tama: “Lihat apa yang sudah saya lakukan.” Melainkan: “Lihat apa yang Tuhan lakukan dalam hidup saya.” Dan ketika melihat kembali 42 tahun perjalanan, hanya satu kalimat yang sungguh layak diucapkan: Semuanya adalah rahmat.
Rahmat yang menopang saat lemah. Rahmat yang menghibur saat sepi. Rahmat yang menguatkan saat salib terasa berat. Hari ini, bersama Nabi Amos, kita percaya: Allah masih membangun yang retak. Bersama Injil, kita percaya: Kristus masih menuangkan anggur baru. Maka pada HUT Imamat ke-42 ini, doa Gereja untuk kami, para imam sangat sederhana namun mendalam: Semoga Tuhan yang telah memanggil, tetap menjaga. Semoga Kristus yang telah mengurapi, tetap memperbarui. Semoga Roh Kudus terus menjadikan hati setiap imam sebagai bejana baru bagi anggur Injil. Dan semoga di senja perjalanan imamat nanti, satu kalimat Santo Thomas Aquinas tetap menjadi nyanyian hati: Non nisi Te, Domine (“Tiada yang kuinginkan selain Engkau, ya Tuhan.” Amin (JT).











