NON  NISI  TE, DOMINE

By -Published On: 5 July 2026-Categories: Renungan, Komunitas-Views: 1-

DUNIA kita bergerak semakin cepat, manusia modern hidup dalam begitu banyak keinginan. Kita menginginkan kesehatan, keamanan, keberhasilan, pengakuan, relasi yang baik, dan masa depan yang terjamin. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Namun di balik banyaknya keinginan tersebut, sering muncul satu pertanyaan yang jarang kita ajukan kepada diri sendiri: apa yang sungguh paling kita cari dalam hidup ini? Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika kita menyadari bahwa tidak sedikit orang yang tampaknya memiliki banyak hal, tetapi tetap merasa kosong. Kemajuan teknologi, kenyamanan hidup, dan berbagai pencapaian sering kali tidak otomatis menghadirkan kedamaian batin. Ada ruang terdalam dalam hati manusia yang tidak dapat dipenuhi oleh harta, jabatan, atau kesuksesan. Santo Augustinus Hippo pernah mengungkapkan dengan indah: “Hati kami gelisah sampai beristirahat dalam Engkau.”

Dalam tradisi Gereja, ada satu ungkapan singkat namun sangat mendalam dari Santo Thomas Aquinas: Non nisi Te, Domine (Tiada yang kuinginkan selain Engkau, ya Tuhan). Ungkapan ini lahir dari seorang teolog besar yang mengabdikan hidupnya untuk belajar, menulis, dan mengajar tentang Allah. Santo Thomas dikenal sebagai salah satu pemikir terbesar dalam sejarah Gereja. Ia menulis karya-karya teologi yang sangat mendalam, termasuk Summa Theologiae, yang hingga kini menjadi rujukan penting dalam studi teologi Katolik. Namun justru di akhir seluruh perjalanan intelektualnya, Santo Thomas sampai pada kesadaran yang sangat sederhana tetapi mendalam: setelah semua pengetahuan, semua argumen, dan semua penjelasan, hanya ada satu yang sungguh bernilai yakni Tuhan sendiri.

Dari pengetahuan menuju cinta

Ungkapan Non nisi Te, Domine mengajarkan sesuatu yang sangat penting bagi hidup rohani kita. Iman Kristiani tidak berhenti pada pengetahuan tentang Tuhan. Kita dapat mengetahui banyak ajaran Gereja, memahami Kitab Suci, dan aktif dalam kehidupan paroki, tetapi semua itu belum tentu berarti kita sungguh dekat dengan Tuhan.

Pengetahuan tentang Allah penting, tetapi tujuan akhirnya bukan sekadar memahami Allah secara intelektual. Tujuan akhirnya adalah mencintai Allah dan hidup dalam persekutuan dengan-Nya. Di sinilah kita belajar bahwa hidup rohani bukan perlombaan untuk mengetahui semakin banyak hal tentang iman, melainkan perjalanan untuk semakin menyerahkan hati kepada Tuhan.

Ekaristi: Tempat kerinduan itu dipenuhi

Bagi kita sebagai umat Katolik, ungkapan Santo Thomas ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan Ekaristi. Dalam setiap perayaan ekaristi, kita datang membawa begitu banyak hal seperti syukur, luka, kecemasan, harapan, dan pergumulan hidup.

Kadang kita datang dengan hati penuh sukacita. Kadang pula kita datang dengan hati lelah dan terbeban. Namun altar selalu mengingatkan kita akan satu kebenaran: Tuhan tidak pernah berhenti memberikan diri-Nya kepada kita.

Dalam Ekaristi, Kristus hadir dan bersabda kepada kita bukan hanya melalui bacaan Kitab Suci, tetapi juga melalui pemberian diri-Nya dalam Tubuh dan Darah-Nya. Ia tidak hanya mengajar dari kejauhan; Ia datang mendekat, tinggal bersama kita, dan menjadi santapan rohani bagi jiwa kita. Karena itu, ketika kita menyambut Komuni Kudus, sesungguhnya kita diajak mengucapkan doa yang sama dengan Santo Thomas: “Tuhan, setelah semua yang kucari dalam hidup ini, pada akhirnya Engkaulah yang paling kubutuhkan.”

Tantangan Zaman Modern

Kita hidup di zaman yang penuh distraksi. Telepon genggam hampir tidak pernah jauh dari tangan kita. Informasi datang tanpa henti. Media sosial terus menarik perhatian. Kesibukan kerja dan urusan keluarga sering menyita energi dan fokus batin.

Dalam budaya seperti ini, mudah sekali hati kita tercerai-berai. Kita bisa sibuk dengan banyak hal tetapi kehilangan pusat hidup. Karena itu, ungkapan Non nisi Te, Domine terasa sangat relevan untuk zaman sekarang. Kalimat ini mengajak kita menata ulang prioritas hidup. Ia menantang kita untuk bertanya: Apa yang paling menguasai hati saya? Apa yang paling saya kejar setiap hari? Apakah Tuhan sungguh menjadi pusat hidup saya?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk membuat kita merasa bersalah, melainkan untuk membantu kita kembali menemukan arah.

Dari Altar menuju kehidupan

Kerinduan akan Tuhan tidak boleh berhenti di dalam gereja. Ekaristi selalu mengutus kita kembali ke dunia. Setelah menerima Kristus, kita dipanggil menjadi kehadiran Kristus bagi sesama. Artinya, Non nisi Te, Domine tidak hanya menjadi doa adorasi, tetapi juga menjadi cara hidup. Jika kita sungguh menginginkan Tuhan di atas segalanya, maka hidup kita akan semakin mencerminkan kasih-Nya: lebih sabar dalam keluarga, lebih jujur dalam pekerjaan, lebih peka terhadap mereka yang menderita dan lebih berani membela kebenaran dan keadilan. Dengan demikian, Kristus yang kita sambut dalam Ekaristi menjadi nyata dalam sikap hidup sehari-hari.

Penutup

Pada akhirnya, hidup manusia adalah perjalanan pulang menuju Allah. Di tengah banyak keinginan, ambisi, dan pencarian, kita diajak menyadari bahwa hanya Tuhan yang mampu memenuhi kerinduan terdalam hati manusia. Semoga ungkapan Santo Thomas Aquinas menjadi doa kita bersama, terutama ketika berlutut di hadapan Sakramen Mahakudus: Non nisi Te, Domine. Tiada yang kuinginkan selain Engkau, ya Tuhan. Kiranya semakin hari kita semakin mampu berkata dengan tulus: setelah semua yang dunia tawarkan, setelah semua yang hidup berikan dan ambil, pada akhirnya hanya satu yang sungguh tinggal dan cukup yakni Kristus sendiri (JT).

Wartakan kabar baik ini kepada sesamamu

“Umat terkasih, mari kita wujudkan Kasih Kristus yang hidup melalui persembahan yang datang dari hati yang bersyukur. Gereja adalah rumah iman dan persembahan Anda adalah nadi yang memastikan api pelayanan, kegiatan rohani, dan kesatuan komunitas kita terus menyala terang bagi sesama. Mari kita wujudkan kerinduan hati untuk terus bertumbuh dan berbuah. Berikan yang terbaik, bukan karena kewajiban, tetapi karena Kasih.”

Leave A Comment

Artikel Terbaru

Mars Regina Caeli

Bersama Bunda Maria Ratu Surgawi,
umat Allah Regina Caeli melangkah pasti.
Semakin setia pada Yesus semakin mengabdi sesama, dalam keluarga yang kudus umat basis jaya.
Pegang teguh semboyan:
Berakar dalam Iman, Bertumbuh dalam persaudaraan, berbuah dalam pelayanan
Ukirkan tekad dan kobarkan bara semangat: Mencintai Ekaristi; Mendalami sabda Ilahi;
Bersaudara yang sejati, berbagi hati,
melayani dengan kasih yang lemah dan letih.
Jadilah laskar Kristus Regina Caeli