GADARA DAN EMAUS

By -Published On: 1 July 2026-Categories: Renungan, Komunitas-Views: 2-

Dalam Injil hari ini, disebut penduduk Gadara.  Gadara adalah sebuah kota kuno di wilayah Dekapolis, di sebelah timur Sungai Yordan, yang sekarang berada di kawasan Umm Qais, Yordania modern. Dekapolis sendiri adalah konfederasi sepuluh kota Helenistik-Romawi yang kuat dipengaruhi budaya Yunani dan Romawi, bukan wilayah Yahudi yang ketat. Injil Matius menyebut Gadara (Mat 8:28); Markus dan Lukas menyebut Gerasa/Gerasenes (Mrk 5:1; Luk 8:26).

Penduduk Gadara hidup di balik “tembok”: tembok rasa aman, tembok kebiasaan lama, tembok kepentingan ekonomi, tembok zona nyaman. Ketika Yesus datang, tembok itu mulai retak. Yesus membebaskan dua orang yang kerasukan—artinya Ia menerobos wilayah yang selama ini dikuasai ketakutan dan kegelapan. Namun respons penduduk justru defensif. Mereka memilih mempertahankan “pagar” lama daripada membuka diri pada rahmat baru.

Mereka mengusir Dia yang membawa pembebasan. Mengapa? Tidak semua orang menolak Yesus karena membenci-Nya. Sering kali penolakan terhadap Kristus lahir dari sesuatu yang lebih halus namun sangat manusiawi: ketakutan akan perubahan.

Kehadiran Kristus tidak pernah netral. Ia datang membawa terang. Dan terang tidak perlu berteriak—cukup hadir, maka apa yang tersembunyi menjadi tampak. Kristus datang membawa pembebasan, tetapi pembebasan hampir selalu menuntut pelepasan.

Selalu ada sesuatu dalam diri kita yang harus mati—ego, kesombongan, keterikatan, ambisi yang tidak teratur, luka yang terus dipelihara—agar hidup baru sungguh dapat lahir. Karena itu, menerima Kristus berarti berani membiarkan Dia masuk ke wilayah-wilayah hidup yang selama ini kita kunci rapat: ambisi pribadi, relasi yang tidak sehat, cara kita menggunakan kuasa, luka batin yang belum sembuh, atau kenyamanan yang diam-diam kita pertahankan.

Apakah saya berkata seperti murid-murid Emaus: Mane nobiscum, Domine — Tinggallah bersama kami, Tuhan (Luk. 24:29). Ataukah, tanpa sadar, hati saya berbisik seperti penduduk Gadara: Tuhan, sejauh ini saja… jangan terlalu jauh masuk. Penduduk Gadara tidak menyangkal kuasa Yesus. Mereka telah melihat mukjizat. Namun mereka tetap meminta Yesus pergi, karena kehadiran-Nya mengguncang stabilitas lama. Ada harga yang harus dibayar. Ada kenyamanan yang terusik. Sebaliknya, murid-murid Emaus—meski kecewa, bingung, dan terluka—justru membuka pintu bagi Kristus. Mereka berkata: “Tinggallah bersama kami.” Dan ketika mereka memberi ruang, mata mereka pun terbuka.

Ada dua kota dalam hati manusia: Gadara dan Emaus. Di Gadara kita berkata, “Pergilah, Tuhan.” Di Emaus kita berkata, Mane nobiscum, Domine — “Tinggallah bersama kami.” (Luk 24:29). Pertanyaan rohaninya menjadi sangat tajam: Hari ini, hati saya lebih menyerupai Gadara atau Emaus?  Kadang kita seperti Gadara—lebih memilih stabilitas semu daripada kebebasan sejati. Tetapi kita dipanggil menjadi seperti Emaus—membuka hati bagi Kristus, meski kehadiran-Nya menuntut pertobatan. Sebab Kristus datang bukan untuk merampas hidup kita, melainkan untuk memulihkannya. Ia tidak datang untuk menghancurkan, tetapi untuk menyembuhkan. Ia tidak mengambil kebebasan kita; Ia justru membebaskan kita dari segala yang memperbudak. Karena itu, rahmat terbesar yang perlu kita mohon hari ini adalah keberanian untuk berkata: Tuhan, jangan pergi. Tinggallah bersamaku. Sekalipun kehadiran-Mu mengguncang hidupku, aku percaya Engkau menuntunku menuju kebebasan sejati. Mane nobiscum, Domine. Tinggallah bersama kami, Tuhan. Amin (JT).

Wartakan kabar baik ini kepada sesamamu

“Umat terkasih, mari kita wujudkan Kasih Kristus yang hidup melalui persembahan yang datang dari hati yang bersyukur. Gereja adalah rumah iman dan persembahan Anda adalah nadi yang memastikan api pelayanan, kegiatan rohani, dan kesatuan komunitas kita terus menyala terang bagi sesama. Mari kita wujudkan kerinduan hati untuk terus bertumbuh dan berbuah. Berikan yang terbaik, bukan karena kewajiban, tetapi karena Kasih.”

Leave A Comment

Artikel Terbaru

Mars Regina Caeli

Bersama Bunda Maria Ratu Surgawi,
umat Allah Regina Caeli melangkah pasti.
Semakin setia pada Yesus semakin mengabdi sesama, dalam keluarga yang kudus umat basis jaya.
Pegang teguh semboyan:
Berakar dalam Iman, Bertumbuh dalam persaudaraan, berbuah dalam pelayanan
Ukirkan tekad dan kobarkan bara semangat: Mencintai Ekaristi; Mendalami sabda Ilahi;
Bersaudara yang sejati, berbagi hati,
melayani dengan kasih yang lemah dan letih.
Jadilah laskar Kristus Regina Caeli