LITURGI: SAAT “AKU” MENJADI “KITA” ( Cloned )
Pusat Injil hari ini terletak pada tiga kata kerja yang diucapkan Yesus. Dalam Kitab Suci Septuaginta berbahasa Yunani, ketiga kata itu berbunyi: (i) ἀπαρνησάσθω ἑαυτόν (aparnēsasthō heauton) artinya hendaklah ia menyangkal dirinya. (ii) ἀράτω τὸν σταυρὸν αὐτοῦ (aratō ton stauron autou) artinya hendaklah ia memikul salibnya. (iii) ἀκολουθείτω μοι (akoloutheitō moi) artinya hendaklah ia mengikuti Aku.
Sekilas ketiganya tampak sebagai tiga perintah yang sejajar. Namun, jika kita memperhatikan bentuk kata kerjanya dalam bahasa Yunani, Yesus sebenarnya sedang menunjukkan dinamika pertumbuhan seorang murid.
Dua kata kerja pertama, “ἀπαρνησάσθω (aparnēsasthō)” dan “ἀράτω (aratō)”, berbentuk “imperatif aoris”. Dalam tata bahasa Yunani Perjanjian Baru, bentuk ini tidak terutama menunjuk pada waktu lampau, melainkan pada suatu tindakan yang dipandang sebagai satu kesatuan yang utuh yakni: sebuah keputusan yang tegas, menyeluruh, dan menentukan arah hidup. Artinya, menjadi murid Kristus dimulai dengan suatu keputusan yang radikal. Seseorang harus berani berkata, “Mulai hari ini Kristus menjadi pusat hidupku.” Ia memutuskan untuk tidak lagi diperintah oleh ego, ambisi, kesombongan, atau kepentingannya sendiri. Ia juga menerima bahwa mengikuti Kristus berarti bersedia memikul salib, yakni segala konsekuensi dari hidup menurut kehendak Allah. Namun, keputusan sebesar apa pun tidak akan berarti jika tidak diwujudkan dalam kesetiaan setiap hari.
Di sinilah Yesus menggunakan bentuk yang berbeda pada kata ketiga: “ἀκολουθείτω (akoloutheitō)” dapat diterjemahkan dengan: “hendaklah ia mengikuti Aku.” Kata kerja ini berbentuk imperatif kini (present imperative), yang dalam bahasa Yunani mengandung makna tindakan yang terus berlangsung. Maksudnya bukan sekadar “ikutlah Aku“, tetapi “teruslah mengikuti Aku“, “jangan pernah berhenti mengikuti Aku“, “jadikan mengikuti Aku sebagai cara hidupmu.” Dengan demikian, Yesus memperlihatkan bahwa hidup sebagai murid memiliki dua dimensi yang saling melengkapi.
Yang pertama adalah keputusan. Ada saat ketika seseorang harus memilih Kristus dengan sepenuh hati. Tidak mungkin seseorang menjadi murid jika masih ingin mempertahankan dirinya sebagai pusat kehidupan.
Yang kedua adalah ketekunan. Keputusan itu harus diperbarui setiap hari. Setiap pagi seorang murid kembali memilih Kristus. Setiap hari ia kembali menyangkal ego, kembali memikul salib, dan kembali berjalan mengikuti Gurunya. Karena itu, menjadi murid bukanlah pengalaman sesaat yang selesai dalam satu retret, satu rekoleksi, atau satu perayaan yang mengharukan. Pemuridan adalah perjalanan seumur hidup. Setiap hari Kristus kembali bertanya kepada kita: Apakah engkau masih mau mengikuti Aku hari ini?
Dalam terang itu, kita memahami bahwa menyangkal diri bukan berarti membenci diri sendiri. Menyangkal diri berarti menempatkan Kristus sebagai pusat kehidupan. Memikul salib bukan berarti mencari penderitaan, melainkan tetap setia kepada kebenaran meskipun harus berkorban. Mengikuti Kristus bukan sekadar mengagumi ajaran-Nya, melainkan berjalan di belakang-Nya dan membiarkan seluruh hidup dibentuk oleh-Nya.
Di sinilah Ekaristi memperoleh maknanya yang paling dalam. Pada setiap Perayaan Ekaristi, kita kembali memperbarui keputusan untuk menjadi murid Kristus. Kita datang membawa kelemahan dan ego kita. Kristus menyatukan kita dengan kurban salib-Nya. Kemudian, pada akhir perayaan, Gereja mengutus kita kembali ke tengah dunia untuk melanjutkan perjalanan mengikuti-Nya.
Dengan demikian, Ekaristi bukan hanya mengenangkan pengorbanan Kristus, melainkan juga membentuk kehidupan para murid. Dari altar Tuhan, kita belajar bahwa keputusan untuk mengikuti Kristus harus diperbarui setiap hari, sampai seluruh hidup kita semakin menyerupai Dia yang telah lebih dahulu menyangkal diri, memikul salib, dan taat kepada Bapa sampai wafat di kayu salib.
Di sinilah Ekaristi memperoleh maknanya yang paling dalam. Pada setiap Perayaan Ekaristi, kita kembali memperbarui keputusan untuk menjadi murid Kristus. Kita datang membawa kelemahan, kegagalan, dan ego kita. Kristus menyatukan kita dengan kurban salib-Nya, menguatkan kita dengan Tubuh dan Darah-Nya, lalu mengutus kita kembali ke tengah dunia untuk melanjutkan perjalanan mengikuti-Nya. Karena itu, Ekaristi bukan hanya kenangan akan pengorbanan Kristus, tetapi juga sumber kekuatan bagi setiap murid. Dari altar Tuhan kita belajar bahwa mengikuti Kristus bukanlah keputusan yang cukup diambil sekali, melainkan keputusan yang harus diperbarui setiap hari. Di sanalah Kristus membentuk hati kita agar semakin serupa dengan hati-Nya: rendah hati, taat kepada Bapa, rela berkorban, dan setia sampai akhir.
Saudara-saudari terkasih, mungkin hari ini Yesus tidak meminta kita memikul salib yang besar. Mungkin Ia hanya meminta kita mengampuni seseorang yang telah melukai kita, berlaku jujur ketika ada kesempatan untuk berbuat curang, tetap setia pada panggilan hidup kita, sabar menghadapi anggota keluarga, atau melayani tanpa mencari pujian. Justru dalam kesetiaan pada hal-hal kecil itulah kita belajar menjadi murid Kristus. Maka, marilah kita pulang dari perayaan Ekaristi ini dengan satu keputusan yang sederhana tetapi sungguh-sungguh: hari ini aku mau mengikuti Kristus. Besok keputusan itu akan kita perbarui lagi. Lusa pun demikian. Sebab menjadi murid Kristus bukanlah semangat sesaat, melainkan kesetiaan seumur hidup.
Semoga ketika dunia melihat cara kita hidup, mereka dapat mengenali bahwa kita sungguh telah berjalan di belakang Kristus. Dan pada akhirnya, ketika perjalanan hidup ini selesai, kita boleh mendengar sabda yang menjadi kerinduan setiap murid yang setia: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba-Ku yang baik dan setia… masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan Tuhanmu” (Mat. 25:21).











