PAHAM-PAHAM DASAR MEMBACA INJIL
PAHAM-PAHAM DASAR MEMBACA INJIL
Jacobus Tarigan
- Pendekatan Ilmiah-Eksegetis
Pendekatan ilmiah-eksegetis berarti membaca dan menafsirkan Injil secara teliti, dengan memperhatikan latar belakang sejarah, cara teks disusun, dan pesan iman yang hendak disampaikan oleh penginjil.
Mengapa hal ini penting? Karena Injil bukan sekadar kumpulan cerita tentang Yesus atau nasihat moral untuk menjadi orang baik. Injil adalah kesaksian iman yang disampaikan melalui peristiwa, perkataan, tindakan, dan simbol-simbol yang memiliki makna tertentu. Karena itu, kita perlu memahami teks dengan memperhatikan konteksnya, bukan hanya berdasarkan kesan atau pengalaman pribadi kita.
Untuk melakukannya, ada tiga dimensi yang perlu diperhatikan.
- Konteks Historis: Memahami Dunia Ketika Yesus Hidup
Konteks historis berarti berusaha memahami keadaan masyarakat ketika peristiwa dalam Injil terjadi.
Kita perlu bertanya: Bagaimana kehidupan masyarakat Yahudi pada zaman Yesus? Bagaimana hubungan mereka dengan penguasa Romawi? Apa arti hukum Taurat, Bait Allah, kemurnian ritual, penyakit, kemiskinan, dan kedudukan sosial bagi masyarakat pada waktu itu?
Pertanyaan-pertanyaan ini membantu kita memahami mengapa tindakan atau perkataan Yesus dapat menimbulkan reaksi tertentu.
Contoh: Dalam Injil Markus 2:13–17, Yesus makan bersama para pemungut cukai dan orang-orang berdosa.
Jika kita membaca kisah ini hanya dengan cara berpikir zaman sekarang, kita mungkin menyimpulkan bahwa Yesus sekadar mengajarkan agar kita tidak menghakimi orang lain.
Kesimpulan itu benar, tetapi belum cukup mendalam. Kita juga perlu memahami bahwa pemungut cukai dipandang negatif oleh banyak orang Yahudi pada masa itu, antara lain karena kaitannya dengan sistem pemungutan pajak Romawi dan kemungkinan penyalahgunaan wewenang.
Dengan latar belakang ini, tindakan Yesus makan bersama mereka menjadi lebih bermakna. Yesus tidak sekadar bersikap ramah kepada orang yang tidak disukai masyarakat. Ia menghadirkan panggilan Allah kepada orang berdosa dan menunjukkan bahwa misi-Nya menjangkau mereka yang dianggap berada di luar lingkaran orang saleh.
Intinya: Konteks historis membantu kita memahami mengapa tindakan Yesus memiliki makna dan daya gugah bagi orang-orang yang menyaksikannya pada zaman itu.
- Konteks Literer: Memahami Bagaimana Penginjil Menyampaikan Pesan
Konteks literer berarti memperhatikan bagaimana sebuah kisah ditulis dan ditempatkan dalam keseluruhan Injil.
Kita tidak cukup hanya bertanya, “Apa yang dilakukan Yesus?” Kita juga perlu bertanya: Mengapa penginjil menceritakannya dengan cara demikian? Mengapa tokoh tertentu bereaksi seperti itu? Mengapa suatu perkataan diulang? Apa arti simbol yang digunakan? Dan bagaimana kisah tersebut berhubungan dengan kisah-kisah di sekitarnya?
Contoh: Dalam Injil Markus 4:35–41, Yesus meredakan angin ribut.
Jika dibaca sepintas, kisah ini merupakan cerita tentang Yesus yang menunjukkan kuasa-Nya atas alam. Namun, jika kita memperhatikan alur ceritanya, tampak bahwa kisah tersebut bergerak dari ketakutan para murid menuju pertanyaan tentang identitas Yesus: “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?”
Pertanyaan ini menjadi kunci untuk memahami kisah tersebut. Markus tidak hanya ingin menceritakan mukjizat yang mengagumkan, tetapi juga mengajak pembaca bertanya siapa Yesus sebenarnya dan bagaimana seharusnya para murid menanggapi kehadiran-Nya.
Dengan demikian, perhatian kita tidak berhenti pada mukjizatnya. Kita diajak masuk ke dalam pertanyaan iman yang muncul dari kisah tersebut.
Intinya: Konteks literer membantu kita menangkap pesan yang hendak dibangun penginjil melalui alur cerita, tokoh, dialog, simbol, dan penempatan kisah.
- Konteks Teologis: Memahami Pesan Iman tentang Allah dan Kristus
Konteks teologis berarti mencari tahu apa yang hendak diwartakan penginjil tentang Allah, Yesus Kristus, Kerajaan Allah, keselamatan, dan kehidupan sebagai murid Kristus.
Keempat Injil mewartakan Yesus Kristus yang sama, tetapi masing-masing memiliki penekanan, sudut pandang, dan cara penyampaian yang khas. Karena itu, kita perlu memperhatikan bagaimana setiap penginjil membantu pembacanya mengenal Yesus dan memahami makna mengikuti-Nya.
Contoh: Dalam Injil Yohanes 11:1–44, Yesus membangkitkan Lazarus.
Kisah ini bukan sekadar cerita tentang mukjizat menghidupkan orang mati. Dalam alur Injil Yohanes, peristiwa tersebut berkaitan erat dengan pewahyuan identitas Yesus.
Sebelum membangkitkan Lazarus, Yesus menyatakan, “Akulah kebangkitan dan hidup” (Yohanes 11:25).
Pernyataan ini menjadi kunci teologis untuk memahami kisah tersebut. Mukjizat Lazarus menunjuk kepada identitas Yesus sebagai Dia yang membawa kehidupan dan mengundang manusia untuk percaya kepada-Nya.
Karena itu, pertanyaan teologis yang perlu kita ajukan bukan hanya, “Bagaimana Yesus membangkitkan Lazarus?”, melainkan juga, “Apa yang diwahyukan peristiwa ini tentang Yesus, dan apa artinya percaya kepada-Nya?”
Intinya: Konteks teologis membantu kita bergerak dari pemahaman tentang peristiwa menuju pengenalan yang lebih mendalam akan pribadi Kristus dan karya keselamatan Allah.
- Mengapa Ketiga Pendekatan Ini Perlu Dipadukan?
Ketiga dimensi tersebut saling melengkapi.
Sebagai contoh, ketika membaca kisah Yesus membasuh kaki para murid dalam Yohanes 13:1–17:
- Secara historis, kita berusaha memahami makna tindakan membasuh kaki dalam masyarakat pada zaman itu.
- Secara literer, kita memperhatikan bagaimana kisah tersebut ditempatkan dalam rangkaian perjamuan terakhir dan bagaimana dialog Yesus dengan Petrus memperjelas pesannya.
- Secara teologis, kita memahami tindakan Yesus sebagai pewahyuan kasih-Nya dan sebagai teladan hidup bagi para murid.
Ketiganya membantu kita menghindari dua kecenderungan.
Pertama, memperlakukan Injil hanya sebagai dokumen sejarah, seolah-olah kita cukup mengetahui apa yang terjadi pada masa lampau.
Kedua, memperlakukan Injil hanya sebagai kumpulan nasihat moral, seolah-olah pesan utamanya sekadar mengajak kita menjadi orang baik.
Dalam pendekatan mistagogis, pemahaman sejarah dan teks justru membuka jalan bagi kita untuk mengenal misteri Kristus, memahami makna iman yang dirayakan dalam liturgi, dan menghayatinya dalam kehidupan nyata.
- Apa Artinya bagi Mistagogi Kaum Awam yang Terdidik?
Bagi kaum awam yang terdidik, membaca Injil secara mistagogis berarti menggunakan kemampuan berpikir kritis untuk memperdalam iman, bukan mempertentangkan akal budi dengan iman.
Kita boleh mengajukan pertanyaan, memeriksa konteks, membandingkan penafsiran, dan mendiskusikan persoalan yang muncul dari teks. Namun, seluruh proses itu tidak berhenti pada penambahan pengetahuan.
Tujuannya ialah agar kita semakin mengenal Kristus, memahami misteri keselamatan yang diwartakan-Nya, dan membiarkan kebenaran Injil menerangi cara kita menjalani kehidupan.
Dengan kata lain, kita membaca Injil bukan hanya untuk mengetahui apa yang dikatakan teks tentang Yesus, melainkan juga untuk memahami siapa Yesus, apa yang dikerjakan Allah melalui-Nya, dan bagaimana kita dipanggil untuk hidup dalam terang misteri Kristus tersebut.
- Pendekatan Mistagogis
Pendekatan mistagogis mengajak kita untuk tidak berhenti pada pertanyaan, “Apa arti teks Kitab Suci ini?”, tetapi melangkah lebih jauh: “Apa yang dinyatakan teks ini tentang Allah, bagaimana kita mengalami-Nya dalam perayaan iman, dan bagaimana pengalaman itu mengubah hidup kita?”
Pendekatan ini dapat dipahami melalui tiga pertanyaan sederhana:
- Apa yang kita kenal tentang Allah?
Kita diajak menemukan siapa Allah dan bagaimana Ia berkarya menyelamatkan manusia melalui Yesus Kristus.
- Bagaimana kita mengalami Allah dalam perayaan iman?
Kita diajak menyadari hubungan antara pesan Kitab Suci dan perayaan liturgi, terutama Ekaristi dan sakramen-sakramen.
- Bagaimana pengalaman akan Allah mengubah hidup kita?
Kita diajak menerapkan pesan Kitab Suci dalam cara berpikir, mengambil keputusan, dan memperlakukan sesama.
Contoh konkret: Ketika membaca kisah Yesus membasuh kaki para murid (Yoh. 13:1–15), kita tidak hanya memahami bahwa Yesus mengajarkan kerendahan hati dan pelayanan. Kita juga menyadari bahwa kasih yang melayani merupakan bagian penting dari kehidupan iman dan perayaan Ekaristi. Selanjutnya, kita diajak menghidupi kasih itu dengan bersedia membantu orang lain, melayani tanpa mencari pujian, dan mengampuni mereka yang bersalah kepada kita.
Dengan demikian, pendekatan mistagogis menuntun kita dari memahami Sabda Allah, mengalami misteri iman dalam perayaan Gereja, hingga mewujudkan iman dalam kehidupan sehari-hari.
- Contoh Konkret: Injil Yohanes 13:1–17
Kisah Yesus membasuh kaki para murid dapat dipahami melalui tiga tahap yang saling berkaitan, yaitu eksegetis, teologis, dan mistagogis. Ketiganya membantu kita bergerak dari memahami teks Kitab Suci menuju penghayatan iman dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
- Pendekatan Eksegetis: Memahami Teks
Eksegesis adalah upaya memahami makna teks Kitab Suci dengan memperhatikan konteks, latar belakang, dan pesan yang ingin disampaikan oleh penulisnya.
Dalam Yohanes 13:1–17, Yesus, yang adalah Guru dan Tuhan, mengambil posisi seorang pelayan dengan membasuh kaki para murid-Nya. Tindakan ini menunjukkan bahwa Yesus tidak mempertahankan kehormatan atau kedudukan-Nya, tetapi justru melayani mereka.
Contoh sederhana: Kita berusaha memahami mengapa Yesus, yang dihormati sebagai Guru, melakukan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh seorang pelayan. Dengan demikian, kita memahami pesan teks berdasarkan tindakan Yesus dan konteks ceritanya.
- Pendekatan Teologis: Memahami Pesan Iman
Teologi adalah upaya memahami Allah, karya-Nya, dan iman manusia berdasarkan wahyu Allah yang diterima dalam iman.
Melalui tindakan membasuh kaki para murid, kita melihat kasih Yesus yang rendah hati dan rela melayani. Yesus menunjukkan bahwa kebesaran seseorang tidak terutama terletak pada kedudukan atau kekuasaannya, tetapi pada kesediaannya mengasihi dan melayani orang lain.
Contoh sederhana: Kisah ini mengajarkan bahwa orang yang memiliki jabatan tinggi tidak seharusnya merasa lebih berharga daripada orang lain. Sebaliknya, semakin besar tanggung jawab yang dimiliki, semakin besar pula kesediaannya untuk melayani.
- Pendekatan Mistagogis: Menghayati dan Menghidupi Misteri Iman
Mistagogi adalah pendampingan yang membantu kita masuk lebih dalam ke dalam misteri iman, menyadari maknanya dalam perayaan Gereja, dan menghidupinya dalam tindakan nyata.
Dalam terang perayaan Kamis Putih, ketika Gereja mengenangkan Perjamuan Terakhir Yesus bersama para murid-Nya dan mengenangkan tindakan pembasuhan kaki, kita diajak memahami bahwa kasih Kristus harus menjadi dasar kehidupan Kristiani. Sabda yang kita dengar dan iman yang kita rayakan hendaknya diwujudkan dalam sikap dan tindakan sehari-hari.
Contoh sederhana: Setelah merenungkan kisah ini, seorang pemimpin tidak hanya mengagumi kerendahan hati Yesus, tetapi juga berusaha mendengarkan bawahannya, memperhatikan kebutuhan mereka, dan menggunakan kewenangannya demi kebaikan bersama.
Penerapan dalam kehidupan kaum awam terdidik
Ketiga pendekatan tersebut dapat diterapkan dalam keluarga, pekerjaan, kepemimpinan, dan kehidupan sosial. Misalnya, ketika seorang pemimpin merenungkan kisah Yesus membasuh kaki para murid, ia dapat mengajukan tiga pertanyaan:
- Eksegetis: Apa yang dilakukan Yesus, dan apa pesan yang disampaikan melalui tindakan tersebut?
- Teologis: Apa yang diungkapkan tindakan Yesus tentang kasih dan cara Allah menghendaki manusia memperlakukan sesamanya?
- Mistagogis: Bagaimana pesan ini saya wujudkan dalam cara memimpin, mengambil keputusan, dan melayani orang lain?
Dengan demikian, ketiga pendekatan ini memiliki penekanan yang berbeda, tetapi saling melengkapi: eksegesis membantu kita memahami teks, teologi membantu kita mendalami pesan imannya, dan mistagogi membantu kita menghayati serta mewujudkan iman dalam kehidupan. Melalui proses ini, membaca Kitab Suci tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi menjadi jalan menuju kedewasaan iman dan perubahan hidup.
- Prinsip Pembelajaran bagi Kaum Awam Terdidik
Dalam mendalami Injil, ada dua hal yang perlu dihindari. Pertama, Injil hanya dipelajari untuk menambah pengetahuan. Kita mungkin memahami latar belakang, makna, dan pesan suatu teks, tetapi pengetahuan itu tidak memengaruhi kehidupan kita. Kedua, Injil hanya dianggap sebagai kumpulan nasihat moral. Kita hanya mencari ajaran tentang apa yang baik dan buruk, tanpa berusaha mengenal Yesus dan memahami kasih Allah yang dinyatakan melalui diri-Nya.
Padahal, Injil mengajak kita melakukan lebih dari itu. Kita perlu memahami isi dan pesan teks, mengenal kasih Allah melalui Yesus Kristus, serta membiarkan kasih itu memengaruhi cara kita berpikir, mengambil keputusan, dan memperlakukan sesama. Karena itu, pembelajaran Injil bagi kaum awam terdidik sebaiknya memadukan empat hal berikut:
- Membaca teks dengan teliti
Kita perlu memahami apa yang sebenarnya dikatakan oleh teks Kitab Suci, siapa yang berbicara, kepada siapa pesan disampaikan, dan dalam situasi apa peristiwa itu terjadi. Dengan demikian, kita tidak menafsirkan teks hanya berdasarkan pendapat atau perasaan pribadi.
- Memahami pesan iman Gereja
Setelah memahami teks, kita mendalami apa yang diungkapkan teks tersebut tentang Allah, Yesus Kristus, dan kehidupan iman. Pemahaman ini perlu ditempatkan dalam terang ajaran dan Tradisi Gereja Katolik agar kita tidak memahami pesan Injil secara terpisah dari iman Gereja.
- Menghubungkan Injil dengan kehidupan sekarang
Kita diajak bertanya: Apa hubungan pesan Injil dengan persoalan yang kita hadapi saat ini? Bagaimana pesan itu menerangi kehidupan keluarga, pekerjaan, pendidikan, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial kita? Kita juga perlu berani memeriksa kebiasaan dan cara berpikir kita berdasarkan terang Injil.
- Menghayati Injil melalui doa, liturgi, dan tindakan nyata
Mendalami Injil tidak berhenti pada membaca dan berdiskusi. Kita juga diajak merenungkan Sabda Allah dalam doa, menghayatinya dalam perayaan liturgi, dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, iman yang kita pahami sungguh menjadi bagian dari cara kita hidup.
Contoh konkret: Ketika membaca kisah Yesus membasuh kaki para murid (Yoh. 13:1–17), kita terlebih dahulu memahami peristiwa dan pesan teksnya. Kemudian, kita mendalami teladan kasih dan kerendahan hati Yesus. Selanjutnya, kita memeriksa kehidupan sendiri: apakah kita menghargai orang lain tanpa membedakan jabatan dan status? Apakah kita bersedia membantu orang yang membutuhkan? Akhirnya, kita berusaha mewujudkan kasih tersebut dalam tindakan nyata.
Dengan cara ini, membaca Injil tidak hanya membuat kita semakin tahu tentang Yesus, tetapi juga membantu kita semakin mengenal-Nya, mengikuti teladan-Nya, dan hidup sesuai dengan kehendak-Nya.
Kesimpulan
Pendekatan eksegetis dan mistagogis saling melengkapi dalam membantu kita mendalami Kitab Suci.
Secara eksegetis, kita berusaha memahami apa yang disampaikan teks Kitab Suci dalam konteksnya. Secara mistagogis, kita melangkah lebih jauh dengan mendalami misteri Kristus, menghayatinya dalam perayaan iman Gereja, dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, bagi kaum awam terdidik, mistagogi bukan berarti menyederhanakan teologi agar mudah dipahami. Sebaliknya, mistagogi membantu kita mendalami iman secara utuh: menggunakan akal budi untuk memahami iman, merayakannya dalam liturgi, dan menghidupinya melalui tindakan nyata.
Ketiga dimensi ini dapat diringkas sebagai berikut:
- Intellectus fidei (memahami iman): menggunakan akal budi untuk mendalami dan memahami kebenaran iman.
- Celebratio fidei (merayakan iman): mengungkapkan dan menghayati iman dalam doa serta perayaan liturgi Gereja.
- Vita fidei (menghidupi iman): mewujudkan iman melalui kasih, pelayanan, keadilan, dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Ketiganya tidak berjalan sendiri-sendiri. Apa yang kita pahami tentang iman seharusnya memperdalam penghayatan kita dalam liturgi, sedangkan iman yang dirayakan hendaknya tampak dalam cara kita menjalani kehidupan.
Pemahaman ini sejalan dengan ajaran Gereja Katolik, khususnya Konstitusi Dogmatis Dei Verbum tentang Wahyu Ilahi dan Konstitusi Sacrosanctum Concilium tentang Liturgi Suci, yang menegaskan pentingnya hubungan antara Sabda Allah, perayaan liturgi, dan kehidupan iman umat.
Pada akhirnya, tujuan mendalami Injil bukan sekadar mengetahui lebih banyak tentang Yesus, melainkan semakin mengenal Kristus, semakin menghayati iman kepada-Nya, dan semakin nyata menghadirkan kasih-Nya dalam kehidupan.
Sebab, pada akhirnya, Sabda Allah bukan hanya untuk dipelajari dengan akal budi, tetapi juga untuk direnungkan dalam doa, dirayakan dalam liturgi, dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.











