MENGAPA GEREJA MENGUBAH SATU KATA?

By -Published On: 12 June 2026-Categories: Renungan, Komunitas-Views: 3-

Menyelami Bahasa Liturgi sebagai Bahasa Iman

“Mengapa harus diubah?”

Pertanyaan ini mungkin pernah muncul dalam benak banyak umat ketika mendapati beberapa penyesuaian dalam Tata Perayaan Ekaristi (TPE) 2020. Ada rumusan yang kini terdengar berbeda. Ada istilah yang diganti. Ada ungkapan yang disempurnakan. Sebagian orang mungkin berpikir, “Bukankah maknanya tetap sama? Mengapa Gereja harus repot-repot mengubah satu kata?” Pertanyaan itu wajar. Namun justru di situlah kita memasuki salah satu kekayaan terbesar liturgi Gereja. Sesungguhnya, Gereja tidak pernah mengubah bahasa liturgi hanya karena alasan gaya bahasa. Dalam liturgi, setiap kata merupakan ungkapan iman. Karena itu, ketika Gereja mengubah satu kata, yang sedang diperbarui bukan sekadar rumusan, melainkan cara kita memahami misteri yang dirayakan.

Bahasa liturgi bukan bahasa biasa

Dalam percakapan sehari-hari, kita bebas memilih kata-kata. Selama lawan bicara memahami maksud kita, kita merasa tidak ada masalah. Tetapi liturgi berbeda. Liturgi bukan percakapan biasa. Liturgi adalah tindakan Kristus bersama Gereja-Nya. Karena itu bahasa liturgi bukan pertama-tama bahasa komunikasi.Bahasa liturgi adalah bahasa iman. Setiap doa, setiap aklamasi, setiap dialog, bahkan setiap kata dipilih dengan sangat hati-hati karena semuanya mengungkapkan apa yang diimani Gereja.Di sinilah ungkapan klasik Gereja menemukan maknanya:Lex orandi, lex credendi. Cara Gereja berdoa mengungkapkan sekaligus membentuk cara Gereja beriman. Artinya, sebelum umat membaca buku-buku teologi, mereka lebih dahulu belajar teologi melalui liturgi.

Liturgi mengajarkan cara melihat

Banyak orang mengira liturgi terutama mengajarkan apa yang harus dilakukan. Sesungguhnya liturgi terlebih dahulu mengajarkan bagaimana kita melihat. Melalui bahasa liturgi, Gereja perlahan mengubah cara pandang umat. Dari melihat imam…kepada Kristus yang bertindak melalui imam. Dari melihat lektor…kepada Allah yang sedang bersabda. Dari melihat roti dan anggur…kepada Kristus yang memberikan diri-Nya. Dari melihat upacara…kepada misteri keselamatan. Inilah pendidikan iman yang paling halus namun paling mendalam.

Mengapa “Bacaan” dan bukan “Pembacaan”?

Salah satu contoh sederhana ialah pilihan kata bacaan. Dalam percakapan sehari-hari seperti sebelum TPE 2005 kita sering mengatakan “pembacaan Kitab Suci”. Namun liturgi memilih istilah bacaan. Mengapa? Karena kata pembacaan lebih menyoroti tindakan seseorang yang sedang membaca. Sebaliknya, kata bacaan mengarahkan perhatian kepada Sabda yang diberikan Allah kepada Gereja pada hari itu. Perbedaannya tampak kecil. Namun pusat perhatian telah bergeser. Bukan lagi kepada pelayan liturgi. Melainkan kepada Allah yang sedang bersabda.

Mengapa “Sabda Tuhan”?

Pendalaman yang sama tampak dalam rumusan liturgi: “Demikianlah Sabda Tuhan.” Sekilas perubahan ini tampak sederhana. Namun Gereja sedang mengajak kita melihat lebih dalam. Yang terjadi dalam Liturgi Sabda bukan sekadar penyampaian sebuah teks Kitab Suci. Yang terjadi adalah sebuah peristiwa Sabda. Allah sendiri sedang berbicara kepada umat-Nya. Karena itu perhatian Gereja tidak berhenti pada jenis bacaannya. Yang ditekankan adalah kenyataan bahwa Allah baru saja menyapa Gereja-Nya.

Kristus sendiri yang berbicara

Pemahaman ini mencapai puncaknya dalam ajaran Sacrosanctum Concilium yang menyatakan bahwa Kristus hadir dalam Sabda-Nya; Dialah yang berbicara ketika Kitab Suci dimaklumkan dalam Gereja. Kalimat ini sangat penting. Gereja tidak mengatakan bahwa Kitab Suci hanya berbicara tentang Kristus. Gereja juga tidak mengatakan bahwa umat sekadar mengenang sabda Kristus. Sebaliknya, Gereja mengimani bahwa Kristus sendiri hadir dan bersabda kepada umat-Nya ketika Sabda dimaklumkan. Karena itu, sesudah Injil dimaklumkan, umat menjawab: “Terpujilah Kristus.” Yang dipuji bukanlah pembaca Injil. Bukan pula buku Kitab Suci. Yang dipuji adalah Kristus yang baru saja menyapa Gereja-Nya.

Dari Agustinus menuju liturgi

Di sinilah kisah Santo Agustinus dari Hippo memperoleh makna yang baru. Yang mengubah hidup Agustinus bukanlah suara anak kecil yang berseru, “Tolle, lege! Ambillah dan bacalah!” Suara itu hanyalah undangan. Yang mengubah hidupnya adalah Sabda Allah yang diterimanya sebagai sapaan pribadi dari Kristus. Bukankah pengalaman yang sama terus terjadi dalam setiap Ekaristi? Allah berbicara. Kristus hadir. Roh Kudus membuka hati. Dan Gereja menjawab dengan iman.

Dari kata menuju misteri

Inilah pesan terdalam yang ingin disampaikan Gereja melalui penyesuaian-penyesuaian kecil dalam bahasa liturgi. Gereja tidak mengubah beberapa rumusan agar umat sekadar menghafal kata-kata yang baru.

Ini sejalan dengan pesan Yesus Minggu, 12 Juli 2026: “Siapa yang Bertelinga, Hendaklah Ia Mendengar” (Mat. 13:1–9). Dan Yesus mengutip Nabi Yesaya tentang orang yang mendengar tapi tidak memahami, melihat tetap tidak menangkap maknanya (Mat. 13:13-15). Artinya orang “mendengar” (tapi tidak “mendengarkan” yakni “menangkap maknanya”). Dengan lain kata, tema Injil minggu ini sebenarnya bukan hanya penabur atau tanah, melainkan misteri mendengarkan Sabda. Dalam hal ini, ada dinamika atau perkembangan yang sangat indah, pertama, Mendengar (akouō), kedua, Memahami (syniēmi = mengerti, menangkap makna) dan ketiga, Berbuah (karpophoreō = menghasilkan buah). Jadi, pesan Yesus, Sabda tidak berhenti pada telinga. Sabda harus turun ke akal budi untuk dipahami, lalu masuk ke hati untuk dihidupi, dan akhirnya tampak dalam buah kehidupan.

Makna Sabda ini agar umat melihat misteri dengan mata iman yang semakin jernih. Dari melihat seorang lektor yang membaca…menjadi melihat Allah yang bersabda. Dari mendengarkan sebuah bacaan…menjadi mengalami perjumpaan dengan Kristus. Dari mengikuti sebuah perayaan…menjadi mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah. Karena itu, tidak ada satu kata pun dalam liturgi yang dipilih secara kebetulan. Di balik setiap kata, Gereja sedang mengajarkan iman. Dan di balik iman itu, Kristus yang hidup terus berbicara kepada umat-Nya hingga hari ini (JT).

Wartakan kabar baik ini kepada sesamamu

“Umat terkasih, mari kita wujudkan Kasih Kristus yang hidup melalui persembahan yang datang dari hati yang bersyukur. Gereja adalah rumah iman dan persembahan Anda adalah nadi yang memastikan api pelayanan, kegiatan rohani, dan kesatuan komunitas kita terus menyala terang bagi sesama. Mari kita wujudkan kerinduan hati untuk terus bertumbuh dan berbuah. Berikan yang terbaik, bukan karena kewajiban, tetapi karena Kasih.”

Leave A Comment

Artikel Terbaru

Mars Regina Caeli

Bersama Bunda Maria Ratu Surgawi,
umat Allah Regina Caeli melangkah pasti.
Semakin setia pada Yesus semakin mengabdi sesama, dalam keluarga yang kudus umat basis jaya.
Pegang teguh semboyan:
Berakar dalam Iman, Bertumbuh dalam persaudaraan, berbuah dalam pelayanan
Ukirkan tekad dan kobarkan bara semangat: Mencintai Ekaristi; Mendalami sabda Ilahi;
Bersaudara yang sejati, berbagi hati,
melayani dengan kasih yang lemah dan letih.
Jadilah laskar Kristus Regina Caeli